mediaseruni.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara resmi meluncurkan rangkaian program strategis sebagai bentuk apresiasi dan dukungan nyata bagi dunia pesantren. Menyambut momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Pemprov Jateng telah menyiapkan enam program unggulan yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan, kualitas pendidikan, hingga menjamin keamanan para santri di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Langkah besar ini merupakan bagian dari inisiatif "Program Pesantren Obah". Melalui program tersebut, pemerintah daerah berkomitmen mencetak generasi santri yang tidak hanya mendalami ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki wawasan sains, teknologi, kemandirian, serta akhlak yang mulia agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Dalam peringatan HSN 2026 yang digelar di Kota Tegal, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah memiliki aset religi yang luar biasa besar. Berdasarkan data kolaborasi dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, tercatat ada sekitar 5.451 pondok pesantren dengan populasi santri mencapai 555 ribu jiwa. Potensi masif ini menjadi alasan kuat mengapa pemerintah harus hadir melalui kebijakan yang menyentuh kebutuhan akar rumput pesantren.

Related Post
Adapun enam "kado" utama yang disiapkan meliputi:
Pertama, pemberian insentif bagi guru agama. Program ini merupakan keberlanjutan dari tahun sebelumnya guna memastikan kesejahteraan para pendidik keagamaan tetap terjaga. Kedua, pemberian bisyaroh atau tali asih bagi para santri penghafal Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka menjaga kalamullah.
Ketiga, penyediaan beasiswa pendidikan tinggi. Program ini mencakup bantuan studi dari jenjang S1 hingga S3, baik untuk studi di dalam negeri maupun luar negeri bagi santri dan pengasuh pesantren. Keempat, beasiswa khusus bagi mahasantri Ma’had Aly dan santri penggerak untuk memperkuat tradisi keilmuan klasik. Kelima, penyaluran hibah untuk renovasi sarana prasarana, seperti gedung pondok dan masjid, agar tercipta lingkungan belajar yang layak.
Terakhir, yang tidak kalah krusial, adalah penguatan sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren (P2KP). Pemprov Jateng telah menerbitkan berbagai regulasi dan membentuk Tim Koordinasi (TK-P2KP-LPA) untuk memastikan pesantren menjadi zona aman dari perundungan maupun pelecehan seksual.
"Jangan takut, jangan diam, dan jangan malu untuk melapor jika melihat atau mengalami kekerasan. Budaya diam harus kita putus bersama," tegas Ahmad Luthfi. Ia menekankan bahwa pesantren harus menjadi tempat yang bermartabat dan aman bagi pertumbuhan karakter anak bangsa.
Menutup arahannya, Luthfi berpesan agar para santri menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan tiga pilar utama: penguasaan kitab kuning yang dibarengi literasi digital, penguatan akhlak untuk menjaga persatuan, serta kemandirian melalui jiwa kewirausahaan. Dengan semangat ini, santri diharapkan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa di masa depan.










Tinggalkan komentar