Strategi Baru Pasok Lele untuk Makan Gratis

Strategi Baru Pasok Lele untuk Makan Gratis

mediaseruni.co.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat peran ekonomi lokal melalui Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Dalam upaya mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), KKP mendorong koperasi tersebut untuk tidak sekadar memanen ikan, tetapi juga melakukan hilirisasi dengan mengolah hasil budi daya menjadi produk siap masak.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa kunci utama agar produk perikanan lokal dapat terserap oleh pasar skala besar adalah nilai tambah. Menurutnya, ikan lele dan nila yang dihasilkan melalui budi daya tidak boleh hanya dijual dalam bentuk mentah. Produk tersebut harus diolah sedemikian rupa agar memenuhi standar mutu, keamanan pangan, serta bentuk yang praktis sesuai dengan permintaan konsumen modern.

Strategi Baru Pasok Lele untuk Makan Gratis
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Komoditas hasil budi daya ikan darat tematik yang sedang kita kembangkan, seperti lele dan nila, harus ditangani dengan serius. Kita perlu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah yang bermutu dan aman untuk memenuhi kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)," ujar Trenggono dalam keterangan resminya di Jakarta.

COLLABMEDIANET

Ia menambahkan bahwa jika standar kualitas ini terpenuhi, para pembeli besar atau offtaker, termasuk pihak pengelola dapur MBG, akan jauh lebih tertarik untuk menyerap hasil produksi dari Kopdes Merah Putih secara berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang stabil bagi para pembudidaya di tingkat desa.

Saat ini, KKP telah mengembangkan sistem budi daya ikan darat berbasis teknologi bioflok di 100 lokasi Kopdes Merah Putih yang tersebar di Pulau Jawa. Untuk memastikan hasil panen tersebut memiliki pasar yang jelas, KKP secara aktif mempertemukan para pengelola koperasi dengan berbagai calon pembeli potensial, mulai dari sektor perhotelan, restoran, jasa boga, ritel, hingga unit pelayanan gizi pemerintah.

Upaya jemput bola ini mulai membuahkan hasil nyata. Berdasarkan data KKP, telah diperoleh 15 surat minat atau Letter of Interest (LoI) dari berbagai pihak. Selain itu, telah ditandatangani dua perjanjian kerja sama penjualan produk olahan lele siap masak antara Kopdes Merah Putih dengan SPPG di wilayah Kudus dan Rembang, Jawa Tengah.

Senada dengan Menteri Trenggono, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, menyebutkan bahwa sektor jasa boga dan SPPG merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Namun, ia memberikan catatan penting bagi para pengelola koperasi.

"Kami ingin unit usaha pengelola koperasi tidak hanya berhenti pada kemampuan memproduksi ikan saja. Mereka harus mampu bertransformasi menjadi produsen yang menghasilkan produk olahan yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pasar," pungkas Erwin. Dengan transformasi ini, diharapkan kemandirian pangan nasional dapat tercapai sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar