mediaseruni.co.id – Pemerintah Indonesia tengah bersiap melakukan langkah besar dalam peta jalan ketahanan energi nasional. Rencana ambisius untuk mengganti penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram dengan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kg kini memasuki babak krusial. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap pasokan energi impor yang selama ini membebani anggaran negara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap efektivitas dan keamanan penggunaan CNG sebagai alternatif bahan bakar bersubsidi tersebut. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa seluruh aspek teknis terkait penggunaan tabung CNG 3 kg sedang berada di bawah pengawasan ketat Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas.

"Saat ini prosesnya sedang dievaluasi secara menyeluruh oleh Lemigas. Kami tidak hanya melihat dari sisi teknis tabungnya saja, tetapi juga bagaimana proses konversi gas hingga masuk ke dalam tabung tersebut. Selain itu, skema bisnis dan tata niaga pendistribusiannya ke masyarakat juga sedang dirumuskan agar nantinya berjalan lancar," ujar Yuliot saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10/2026).

Related Post
Meskipun pemerintah belum memberikan tanggal pasti kapan CNG akan resmi dilepas ke pasar luas, Yuliot menjanjikan transparansi kepada publik. Hasil evaluasi komprehensif yang mencakup aspek keamanan, kelayakan teknis, hingga kesiapan distribusi akan disampaikan secara langsung oleh Menteri ESDM kepada masyarakat setelah seluruh kajian selesai.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mengonfirmasi bahwa program konversi dari LPG ke CNG ini sudah memasuki fase uji coba lapangan sejak Mei lalu. Targetnya, seluruh rangkaian uji coba ini dapat diselesaikan dalam waktu singkat agar transisi energi dapat segera dimulai.
Urgensi peralihan ini didorong oleh kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Selama ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG dalam jumlah jutaan ton setiap tahunnya. Ketidakpastian pasokan global akibat konflik antarnegara menjadi risiko besar bagi stabilitas energi domestik.
Sebagai solusi, pemerintah melihat potensi sumber daya alam dalam negeri yang sangat melimpah. Penemuan cadangan gas baru, salah satunya di wilayah Kalimantan Timur, menjadi angin segar bagi kedaulatan energi nasional. Dengan memanfaatkan gas domestik untuk memproduksi CNG, pemerintah optimistis dapat menekan angka impor secara signifikan.
"Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada pasar global yang penuh gejolak. Dengan memanfaatkan potensi gas domestik yang melimpah, kita bisa mengalokasikan pasokan tersebut untuk memenuhi kebutuhan CNG dalam negeri," tegas Bahlil dalam pernyataan sebelumnya.
Jika uji coba ini berhasil dan skema tata niaganya matang, transisi dari LPG ke CNG diharapkan tidak hanya menghemat devisa negara, tetapi juga menjamin ketersediaan bahan bakar murah bagi masyarakat luas secara berkelanjutan.









Tinggalkan komentar