23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Wayan Suasti Membawa Keluarganya Pindah ke Kampung Tetangga

Darah Darah Jingga (10)

Dalam gelapnya hutan dan dalam keadaan terluka parah Wayan Suasti terhuyung melangkah ketempat persembunyian istri dan anaknya. Berunttung saat itu renbulan bersinar terang hingga meski gelap pemandangan di depan matanya masih bisa menandai jalan. Dibalik rerimbunan semak belukar Narisiwi berseru terpekik melihat suaminya muncul dalam keadaan terluka parah.

Wayan Suasti berusaha menenangkan isterinya. “Tenang bu, mana putra kita?”
“Ada pak. Sengaja saya suruh tetap bersembunyi.”
“Oh, syukurlah.”

Narisiwi membimbing suaminya menuju salah satu gerombolan semak belukar dihadapan mereka. Bocah berusia tak lebih sepuluh tahunan bernama Bagus terpekik melihat kemunculan ayahnya dalam kondisi penuh darah. Wayan Suasti cepat memberi isarat pada putranya hingga pekikan pun dapat tertahan. “Jangan berisik nak. Banyak orang jahat diluaran sana,” suara Wayan Suasti tersendat karena menahan sakit di lengan dan bahunya.

Narisiwi yang sudah merobek bagian kainnya segera membalut luka suaminya. Tetapi Wayan Suasti berucap. “Sebentar bu, luka ini akan terus mengucurkan darah kalau tidak cepat dikasih obat..”
Wayan Suasti terhenti suaranya. Napas kelihatan turun naik. Narisiwi begitu menguatirkan suaminya. “Tadi bapak lihat ada pohon waru. Ambillah beberapa kuntum kembangnya yang berserakan ditanah. Paling tidak bisa mencegah mengucurnga darah.”

Wayan Suasti memberi isarat dengen pandangannya kearah pohon waru kurang lebih dua puluh meter yang ditunjuk suaminya, lalu memunguti kuntum kuntum kembang waru secukupnya dan kembali menemui suaminya. “Kuntum waru ini pak?”

Wayan Suasti mengangguk sembari menerima kuntum waru yang dibawa isterinya, sebelum kemudian memgunyahnya. Selesai itu ia meminta isterinya membaluri kebagian bagian tubuhnya yang terluka. wayan Suasti meringis menahan pedih. Sebelum kemudian memejamkan mata. Narisiwi memeluk putranya. Tak bisa dia membayangkan keadaan kampungnya saat ini yang dibakar perampok. Kecuali bayang-bayang kehancuran serta tumpukan puing-puing rumah yang terbakar.

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (47)

Narisiwi akhirnya tak sanggup memejamkan mata barang sepicing pun. Narisiwi begitu mengkhawatirkan keadaan suaminyanya. Sementara dari atas pohon terdengar suara burung celepuk yang ditingkahi dengan kirikan-kirikan jangkrik

Keesokan harinya pagi pagi sekali seiring suara kokok pertama ayam hutan Wayan Suasti membuka mata. Meski dalam kondisi terluka namun rasa sakitnya jadi berkurang. Wayan Suasti terlihat lebih segar. Narisiwi yang menunggui suaminya lega hatinya. “Bagaimana pak? Apakah kita akan kembali ke perkampungan?”

Wayan Suasti menghela napas dan menguatkan diri duduk. “Berbahaya bu, kalau kembali ke perkampungan. Bapak khawatir mereka masih berada disana.”

Wayan Suasti kentara sekali menggantung kalimat. Sesudah menarik napas agak panjang dia melanjutkan. “Kasihan orang-orang kampung. Bapak gak bisa berbuat apa apa menolong mereka. Rampok rampok itu berkepandaian tinggi dan kejam.

Narisiwi mengerti maksud suaminya. Tentulah banyak sekali warga kampung menjadi korban keganasan perampok perampok itu. Karenanya Narisiwi tak kuasa
bertanya lebih jauh.

“Begini saja bu, bapak punya kawan yang tinggal di kampung sebelah barat hutan ini. Kita kesana saja.”

Wayan Suasti perhatikan warna muka istrinya yang kelihatan lebih tenang. “Bagaimana seandainya ia tidak mau menerima kita, pak?”
“Tidak mungkin bu. Dia sahabat bapak pasti mau menolong kita,”

Narisiwi memang tak punya pilihan. Kembali ke perkanpungan nelayan tentulah sangat berbahaya. Karena itu segera dia anggukan kepala. “Baiklah kalau itu yang bapak pikir terbaik saya menurut. Kapan kita berangkat pak?”

“Sebentar bu, biar bapak lihat lihat keadaan dulu. Kalian jangan kemana mana dan jangan keluar sebelum mendengar suara bapak. Wayan Suasti lantas keluar mengamati keadaan. “Hati hati pak.”

Sambil mengendap endap Wayan Suasti mengangguk saja kecil. Narisiwi dan putranya menunggu dibalik kerimbunan belukar dwngan harap harap cemas. Beruntung tak lama kemudian Wayan Suasti muncul dan memberi isarat agar mereka keluar. Akhirnya Wayan Suasti membawa keluarganya menuju perkampungan di bagian Barat hutan Parangtritis. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: