25 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Syeh Maulana Ishak Raib dari Samudera Pasai

Darah Darah Jingga (4)

PUAS menikmati hidangan Kemuning lepaskan pandang ke luar. Orang orang seperti tak berkurang lalu lalang. Dari tempat duduknya pemuda itu bebas memandang ke luar.

Beberapa jenak pemuda tersebut lepaskan pandang, sampai akhirnya menangkap pembicaraan dua pedagang berkebangsaan Tionghoa di belakangnya. “Padjajaran ini memang negeri yang hebat. Malaka luar biasa, namun belum bisa dikatakan seimbang.”

Yang berucap padagang barnama Ciu Lung.
“Bukan cuma Malaka. Maluku juga kini mulai menyaingi.” Kawannya bernama Ceng Lu menyahut tenang. Ciu Lung melongo. “Hai, apa maksudmu?! Kau bilang Maluku juga sudah menjadi pelabuhan besar?! Yang benar kau bicara!”

Melihat keheranan kawannya Ceng Lu serta merta tertawa keras. Tetapi seketika terdiam begitu belasan pasang mata menoleh kearahnya. Sambil pelankan nada bicara dia berucap. “Rupanya tak tahu kau perkembangan di Maluku atau memang tak pernah kau berniaga kesana. Aaa, pantaslah….’
“Bukan…, bukan begitu. Soalnya lama aku tidak berniaga kesana. Jadi tak tahu kalau negeri kelautan itupun sudah mengalami perkembangan yang pesat.”

“Bukan cuma pesat bahkan merajai wilayah timur dan sekitarnya.” Ceng Lu sejenak menarik napas. “Tapi bagiku sama saja. Baik Malaka maupun Maluku keduanya pelabuhan pelabuhan besar dan tertib. Tapi tak bisa disamakan Sunda Kalapa. Sunda Kelapa sebanding dengan negeri kita.”
“Tapi aku pernah dipersulit.” Ciu Lung menggerendeng.
Ciu Lung tak mau kalah. “Ah, itu kan salahmu sendiri. Sudah tahu bukan giliran mu merapat malah kau maju duluan. Ya, kena sanksi, dan itu namanya kau yang mempersulit.”
“Itulah. Tadinya aku mengira Syah Bandar Sunda Kalapa sama seperti di Gujarat dan Brazil, tak tahunya, wah… tidak berani lagi aku melanggar.”
Mendengar itu Ceng Lu hanya senyum-senyum. Tetapi seperti teringat sesuatu. “Eh, dalam satu bulan ini pernahkah engkau berpapasan dengan kapal niaga saudara A Cong?”

BACA JUGA:  Merpati Maulana Ishak di Pantai Parangtritis

Ciu Lung serta merta menarik napas. “Aneh. Betul betul aneh. Agaknya tak ada lagi nama lain untuk ditanya kecuali A Cong. Sebetulnya apa tengah terjadi disini?”
Ceng Lu jadi kesal. “Dasar otak udang! Berita sebesar itu kau tak tahu!”
“Berita besar apa?!”
“Perginya Sultan Malaka!” Suara Ceng Lu terdengar ditahan.
“Lalu, apa hubungannya dengan Si A Cong? Sultan Malaka yang pergi kenapa Si A Cong yang dicari cari?”

Saking kesalnya Ceng Lu sampai geleng geleng kepala. “Kabar ini sudah bertiup kemana-mana. Kau juga tahu. Bahkan hampir keseluruhan peniaga sudah pula mendengarnya. Benar tidaknya Sultan Maulana Ishak tak berada lagi di Malaka, ah, siapa yang tahu. Nah, disinilah persoalannya. Siapapun tahu saudara A Cong terkenal dekat dengan Sultan. Jadi bukan tak mungkin diapun tahu perihal ini.”

Ciu Lung kontan mengangguk angguk. Tapi secepat itu keningnya berkerut. “Terus terang aku tak begitu menaruh perhatian terhadap perihal ini. Namun sebagai peniaga tentu saja ini soal lain….”
“Bagus. Kalau kau sudah mengerti.” Ceng Lu momotong.

Ciu Lung mengerenyit. “Sultan Maulana terkenal kebijakannya di bidang perniagaan. Kita semua telah membuktikan. Segala urusan Kesyahbandaran betul betul memudahkan kita peniaga.”
Kali ini Ceng Lu yang melongo. “Hai, tiba tiba otakmu jadi terang. Malah hebat bicaramu. Ah, setan apa mendadak masuk ke kepalamu.”

Ciu Lung mencibir. Dahi kembali berkerut. Yang ini kelihatan lebih tebal. “Aku jadi ragu….”
Ceng Lu mengerenyit. “Ragu? Bahwa semua itu hanya kabar isapan jempol belaka?!”
“Ya, Aku ragu Sultan Malaka itu justru berada di Pasai. Bukankah sejak putranya hilang di laut ia menyendiri disana?”
Ucapan itu sungguh di luar dugaan Ceng Lu. Karenanya serentak ia terdiam. Betul. Sejak musibah yang menimpa kapal dagang Malaka di selat Malaka, dan mengakibatkan hilangnya putra Mahkota Malaka, Maulana Ishak menyembunyikan dirinya ke Pasai. Dan semenjak itu dirinya tak pernah terlihat lagi dipercaturan umum.

BACA JUGA:  Ki Ageng Ngudung Turun Gunung

Ceng Lu manggut manggut. “Ya, ya. Mungkin saja, dan karena itu pula kini yang menjabat Sultan sementara adalah salah seorang putranya.”
Ciu Lung memotong. “Kabarnya putranya yang berkedudukan di Palembang. Kalau benar berita itu memang sepantasnya dia. Bukankah dia keponakan langsung Panglima Malahayati. Maksudku saudara kembar Panglima galak itulah istri Sultan Malaka. Jadi cocoklah.”

Ceng Lu tak menyahut. Hanya bibirnya nampak senyum senyum. Sementara itu, si pemuda sejak tadi mendengarkan mulai tak betah berlama lama. Segera ia memanggil pelayan dan membayar pesanan. Seraya melirik kedua peniaga keturunan Tionghoa itu iapun melangkah keluar. Sampai di luar dilihatnya bocah pengurus kuda kuda tetamu duduk berselonjor kaki di bale bale. Si bocah ketakutan ketika si pemuda memanggilnya. Tetapi Kemuning keburu lebarkan senyum. “Adik kecil, siapa namamu?”

Si bocah masih takut. “Cecep, tuan.”
“Engkau pengurus kuda kuda tetamu rumah makan ini?!”
“Be, betul tuan.” Bocah berusia sepuluh tahun itu menganguk, lalu memberanikan diri mendongak. “Ngg, kuda tuan sudah saya kasih dedek dan air. Lihat, sekarang sudah segeran.” Kemuning kembali tersenyum. “Engkau baik sekali. Eh, dimana rumahmu?”

Bocah bernama Cecep tak menyahut. Hanya telunjuknya mengarah pada jalan kocil dibelakang rumah makan. Pemuda dihadapan si booah lagi mengangguk angguk. Sejenak kemudian menghampiri kudanya. Lalu mengelus elus bagian leher kuda. Sebelum melompat ke punggung kuda ia memberikan sekeping uang perakan pada si bocah.

Pada masa itu sekeping uang perakan adalah jumlah yang teramat besar. Dengan jumlah itu bisa membuka warung keoil kecilan. Dan itu yang membuat si bocah melongo menyaksikan uang yang barangkali seumur hidup baru kali ini disaksikannya. Pemuda bernama Aria Kemuning lebarkan senyumnya. Sekali dia menghentak kuda putih bersih bernama Seta menggembor karas dan secepat itu melesat laksana anak panah lepas dari busur.

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (13)

Terus terang pemuda ini sudah tertarik mendengar percakapan dua pedagang Tionghoa dirumah makan tadi. Tak dapat dia menampik kalau kabar ini cepat menyebar. Maklumlah namanya juga pedagang. Terlebih lebih selama ini memang Sultan Malaka memudahkan sekali urusan perniagaan. Kasarnya tentu saja kekuatiran mereka terhadap kebijakan perniagaan di Malaka akan berubah.

Maulana Ishak memang padagang tulen. Perhatian pada dunia perniagaan telah mampu meneruskan peranan Samudera Pasai sebagai pusat perniagaan di Sumatera. Sejak penyerbuan Majapahit ke Samudera Pasai, Kesultanan yang pernah mengalami masa kejayaan di masa pemerintahan Sultan Malik Al Saleh tenggelam namanya. Untunglah pada waktu itu Malaka keburu berdiri. Sehingga kekosongan pusat perniagaan di Sumatera segera diambil alih setelah bersaing dengan Palembang. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: