23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Sekretaris BPKAD Lampura Diduga Terima Potongan Dana BOK 4 Persen

LAMPUNG, MEDIA SERUNI – Tidak terima namanya dibawa-bawa dalam kasus pemotongan dana Bantuan Operasiaonal Kesehatan (BOK) tahun 2017 – 2018, Sekretaris Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset ( BPKAD ) Lampung Utara Yustian Adhinata membantah tudingan tersebut.

Yustian dengan tegas mengatakan, membantah telah turut menikmati aliran dana Bantuan Operasional Kesehatan tahun anggaran 2017-2018 sebesar empat persen. Bahkan, menurutnya, keterangan yang disampaikan hanya fitnah belaka.

Nama Yustian pertama kali disebut Joni Anwar, kuasa hukum Maya Metissa kepada wartawan, Senin (5/10/2020). Kala itu, Joni menyebutkan kliennya memang mengakui adanya pemotongan dana BOK sebesar 10 persen.

Namun dari jumlah pemotongan tersebut, kliennya hanya mendapat bagian sebanyak 4 persen, sedangkan 4 persen lainnya mengalir pada Yustian Adhinata (YA). Lalu sisanya sebanyak 2 persen lagi, mengalir pada DP.

‎”Saya tidak pernah bertemu, komunikasi baik lewat WA maupun telepon dengan ibu Maya Metissa. Jadi, saya tegaskan saya tidak pernah terima sesuatu apa pun dari ibu Maya Mettisa,” ujar Yustian, Jumat (9/10/2020).

Apa yang disampaikannya itu telah ia sampaikan juga di depan Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan. Saat itu, ia hadir‎ sebagai saksi dalam persidangan kasus potongan BOK 2017-2018 dengan terdakwa Maya Metissa.

Kendati demikian, dalam persidangan memang disebutkan adanya pemotongan dana tersebut. Pemotongan dana itu disebutkan bendahara Dinas Kesehatan, Novrida Nunyai. Seluruh dana hasil pemotongan itu diserahkan keada Maya Metissa.

“Keterangan ini disampaikan oleh bendahara Dinas Kesehatan Novrida Nunya‎i dalam persidangan,” kata dia.

Lantaran tidak sesuai dengan yang disampaikannya, Yustian menganggap, penyebutan namanya dalam kasus dugaan korupsi BOK fitnah baginya. Ia akan berkonsultasi untuk mengkaji apakah langkah yang terbaik terkait fitnah itu usai sidang.

BACA JUGA:  Satres Narkoba Polres Lampung Utara Kembali Ringkus Penyalahgunaan Narkoba

“Menurut saya itu fi‎tnah, tapi saya menunggu dulu hasil persidangan sebelum menentukan langkah,” jelasnya.

‎‎Kasus dugaan korupsi BOK tahun anggaran 2017-2018 yang menjerat Maya Metissa semakin berkembang. Maya didakwa melakukan pemotongan sebesar 10 persen dari besaran dana BOK dimaksud ternyata tidak sendiri. Hal itu disampaikan kuasa hukum Maya Metissa, Joni Anwar kepada wartawan, Senin (5/10/2020)

Menurut Joni, kliennya mengakui adanya pemotongan dana BOK sebesar 10 persen. Namun dari jumlah pemotongan tersebut, dirinya hanya mendapat bagian sebanyak 4 persen, sedangkan 4 persen lainnya mengalir pada YA. Lalu sisanya sebanyak 2 persen lagi, mengalir pada DP.

“Total potongan dana BOK sebesar 10 persen tersebut sebanyak Rp 2,1 miliar. Dari jumlah itu menurut klien kami, beliau hanya mendapat bagian 4 persen. Kemudian 4 persen untuk YA dan sisanya 2 persen untuk DP. Saya meminta ada azas keadilan terhadap klien saya juga ditegakkan. Mereka yang diduga menerima pemotongan itu harus juga mempertanggungjawabkan perbuatannya,” terang Joni.

Menurut Joni, perbuatan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) selalu dilakukan secara bersama-sama bukan individual.

“Intinya ini dugaan tipikor pemotongan anggaran BOK 2017 dan 2018. Yang perlu kita cermati tipikor tidak mungkin hanya dilakukan hanya satu orang, pasti akan dilakukan secara berjamaah. Sementara ini yang baru menjadi terdakwa adalah kadisnya saja,” katanya.

Joni Anwar juga menegaskan pernyataan Novrida Nunyai di PN Tipikor Tanjungkarang beberapa waktu lalu, yang mengatakan bahwa pemotongan aliran dana BOK di Dinkes Lampura sebesar 10% tersebut sepenuhnya mengalir kepada Maya Metissa itu tidak benar adanya. “Kita lihat saja nanti, fakta di persidanganya,” ujarnya.

Lalu berdasarkan fakta persidangan, saksi Novrida Nunyai membenarkan barang bukti berupa catatan potongan dana BOK termasuk yang disimpan di dalam komputer telah dia hapus dan dibakar.

BACA JUGA:  Pemkab Tubaba Diskusi Sambil Sosialisasi Pengawasan Berkala

“Berdasarkan keterangan saksi Novrida Nunyai di persidangan, saksi mengakui, barang bukti berupa catatan dia musnahkan dengan cara dibakar di kantor Dinkes Lampura, sementara yang tersimpan di dalam komputer (Excel) juga telah dihapusnya. Ini perlu diungkapkan sehingga menjadi terang benderang,” ujar Joni Anwar.

Wartawan : Hairudin
Kabiro : Roffi Permadani

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: