31.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 27, 2023

Kurnia: Bekal Kami Cuma Doa Anak dan Isteri, Selebihnya Urusan Yang Maha Kuasa

TEGALWARU, MEDIASERUNI.COM – Ksatria Biru, itu julukan mereka, pemilik motto “Pantang Pulang Sebelum Padam”. Selama api belum berhasil dipadamkan haram bagi Ksatria Biru meninggalkan medan pertempuran.

Motto ini tergurat jelas pada wajah-wajah letih, kurang tidur dan lusuh di lereng Gunung Cengklik. Mereka baru memenangkan pertempuran tiga hari tiga malam di Gunung Cengklik dan Gunung Sirnalanggeng.

Dan, hari itu, kabarnya ksatria-ksatria biru ini akan bergeser ke Puncak Sempur, juga masih dalam gugusan pegunungan Sanggabuana untuk menghadapi pertempuran baru. Itu artinya, mereka belum bisa berkumpul kembali dengan keluarga di rumah yang menunggu dengan harap-harap cemas.

Suaranya pelan, mungkin karena terlalu lama terkurung asap dan panasnya api. Meski wajah terlihat letih dan seragamnya yang lusuh, namun gurat-gurat keras dan tegas tetap tak hilang dari wajahnya. Tidak banyak yang diungkapkan Kurnia, karena bagi mereka “Bertindak lebih baik ketimbang bicara”.

Satu kalimat dari ucapan mereka satu nyawa pada saat bersamaan sedang meregang nyawa ditengah kobaran api.
“Tadi apel penutupan, tugas telah dilaksanakan. Alhamdulilah di titik ini api sudah padam total,” tegas kurnia.

Apel penutupan tugas pemadam kebakaran bersama BPBD, TNI dan Polri sudah selesai di laksanakan, Kamis (24/10/2019) malam, termasuk masyarakat dan pegiat-pegiat lingkungan yang terlibat dalam pemadaman api.

Pertempuran tiga hari tiga malam di Gunung Cengklik memang meninggalkan cerita tersendiri bagi para Ksatria Biru ini.
Kurnia tidak menyebutkan jumlah Ksatria Biru yang terlibat dalam pertempuran tersebut karena mereka adalah satu. Satu terluka semua merasa sakitnya. Dan, Kurnia mewakili puluhan Kurnia-Kurnia lain yang juga terduduk letih menghampar di lereng Gunung Cengklik.”Medan di hutan berbeda ketika kita memadamkan api yang membakar rumah atau gedung. Kalau rumah, titik dan arah apinya jelas, tetapi di hutan kita tidak sadar tahu-tahu api sudah mengurung,” ucap Kurnia.

BACA JUGA:  Sudah Delapan Tahun Yati Terbaring Karena Sakit Osteomelitis

Menurut Kurnia, bisa seperti itu karena arah angin bisa tidak terduga-duga. “Api mengikuti arah angin. Makanya kita juga harus bisa membaca kecenderungan arah angin pada saat itu,” terang Kurnia.

Selain itu, sulitnya medan juga menjadi kendala yang dihadapi. Batang-batang pohon berdiri yang terbakar juga jadi ancaman para Ksatria Biru, karena bisa saja pohon besar itu tumbang dan menimpah mereka. Disamping kontur medannya yang berbukit, yang pasti mereka bertempur dengan ketersediaan air yang minim. Padahal air inilah peluru mereka dalam setiap medan pertempuran.

Ketika ditanya, apakah tidak takut berada ditengah kobaran api yang menjilat-jilat, Kurnia hanya tersenyum. “Kami juga manusia yang punya rasa takut. Saya juga takut, tapi ini tugas. Ketika berada ditengah kobaran api, hanya satu yang jadi bekal kami, doa anak dan istri di rumah. Selebihnya kami serahkan kepada Kehendak Sang Maha Kuasa,” ucap Kurnia.

Demikian, terlepas dari sepenggal cerita yang tertinggal itu, apapun sebutannya, mereka sudah menang, api sudah padam. Dan kini, wajah anak, istri serta orang tua di rumah sudah membayang dipelupuk mata. Tetapi, bisakah mereka langsung pulang ke rumah?

“Mungkin setelah ini kami juga akan bergeser ke area yang lain, informasinya di selatan area Puncak Sempur juga terjadi kebakaran,” ucap Kurnia yang masih terduduk letih di kaki Gunung Cengklik. (irvan)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
27PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: