31.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 27, 2023

Kampung Nelayan Parangtritis Dibakar Perampok

Darah Darah Jingga (9)

HARI baru memasuki magrib. Ombak Pantai Parangtritis tak pernah berhenti menggelorakan nyanyian nyinyir pelaut pelaut bahari. Langit temaram yang kelihatan meredup menandakan sudah waktunya bibi bercengkerama.

Belum benar benar nampak bulatnya, bahkan masih kemerahan tapi cukuplah menerangkan bagian bagian sudut pantai dibawahnya. Perkampungan Nelayan Parangtritis seperti biasanya telah tampak sepi. Sunyi dan hening. Kecuali desiran desiran angin pantai dan terasa hangat.

Sebuah gubuk sederhana beratapkan daun rumbia berdindingkan batang batang kayu bulat masih terang oleh cahaya lampu sentir tergantung dibagian ruangan depan. Gubuk tersebut tidak terlalu besar tak juga termasuk kecil untuk ukuran sebuah keluarga. Halaman yang luas serta beberapa batang pohon kelapa hampir mencapai tiga kali tingginya gubuk laksana benteng benteng pentapis angin angin perusuh. Di gubuk itulah Wayan Suasi dan Narisiwi beserta putranya merasa tenang untuk bernaung.

Saat itu Wayan Suasti duduk santai dibale bale bambu didepan gubuknya. Bale-bale ini dibuatnya satu minggu lalu. Seraya menikmati cahaya rembulan beberapa kali. Bibirnya berdecak-decak merasakan nikmatnya wedang jahe panas buatan istrinya. Dari dalam gubuk muncul Narisiwi. Wayan Suasti menyambut kehadiran istrinya dengan senyum.
“Sudah tidur bu putra kita?”
Narisiwi anggukkan kepala tersenyum. “Baru saja pak. Nampaknya putra kita itu kelelahan seharian tadi bermain di pantai.”
Narisiwi duduk disamping suaminya. Wayan Suasti hadapkan lagi pandangan kearah rembulan. Ada kerinduan seakan mengendap dihatinya. Entah rindu pada siapa. Narisiwi hanya tersenyum manis dan memandang suaminya.
Wayan Suasti berucap rendah. “Malam apa sekarang ya bu?”
Narisiwi sejenak mengingat. “Rabu Legi, pak. Apa besok bapak ke kampung tetangga lagi?”
“Ah, tidak bu. Hanya beberapa hari ini bapak seperti lupa hari.”
Wayan Suasti alihkan pandang pada istrinya. Lagi lagi Narisiwi tersenyum manis. “Itukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehingga sampai lupa hari.”
“Oh, iya ya bu. Memang akhir-akhir ini bapak sibuk terus. Bapak kasihan pada warga kampung. Hasil tangkapan bulan-bulan ini melimpah ruah, kalau tidak segera dijual sayang ikan-ikan itu akan membusuk.”
Narisiwi kembali unjukkan senyumnya. Masih mendengarkan ketika Wayan Suasti berucap melanjutkan. “Kita harus bersyukur bu. Sang Hyang Widi agaknya berkenan melimpahkan rahmat-Nya terhadap kampung kita.”
“Iya pak. Ibu juga dapat melihat perubahan tarap kehidupan warga kampung kita, sekarang lebih baik lagi.”
Narsiwi sesaat memandangi suaminya disamping. “Semoga ya pak, dengan keadaan membaik ini warga kampung kian mendekatkan dirinya pada Sang Hyang Widi.”
“Semoga bu, kita semua terus ingat pada-Nya dan tidak melalaikan kewajiban terhadap Sang Pencipta alam semesta ini.”
Suami istri itupun sejenak kelihatan tersenyum. Wayan Suwasti kemudian senyum-senyum. Narisiwi tak mengerti. “Ada apa pak? Bapak tersenyum-senyum sendiri.”
“Itu bu, tadi sewaktu ditengah perjalanan menuju kampung tetangga. Pak Sakir dan Pak Mamat bertanya yang membuat bapak senyum-senyum.”
Narisiwi semakin tidak mengerti. “Bertanya soal apa? Apakah tentang ikan-ikan dalam gerobak?”
“Ah, kalau soal itu tidaklah membuat bapak tersenyum. Bukan bu.”
“Kalau bukan, jadi soal apa pak?”
“Nggg, anu bu….” Wayan Suasti mendadak tolehkan kepala kearah gubuk. “Ngg, betul bu, putra kita sudah tertidur?”
Narisiwi justru makin curiga. Hatinya seketika merasa tidak enak. Berbagai dugaanpun mulai muncul dibenaknya. Seraya pandangi wajah suaminya penuh kecurigaan ia menyahut. “Sudah pak. Apa sebenarnya tengah terjadi? Mengapa bapak mendadak bertanya soal putra kita?”
“Tenang..? tenang bu. Tidak terjadi apa apa kok. Hanya keheranan Pak Sakir dan Pak Mamat. Menurut mereka sejak kehadiran putra kita di perkampungan ini semua hasil tangkapan warga kampung berlipat lipat ruahnya. Hampir dua kali lipat banyaknya dari hasil tangkapan sebelum kehadiran putra kita. Bagi mereka semua itu aneh.”
“Ooo, ibu kirain ada apa toh pak…. sampai deg degan.” Narisiwi mengendurkan ketegangannya. “Lalu apa jawab bapak?”
“Bapak cuma tersenyum. Bukankah keseluruhannya telah diatur Sang Maha Pencipta? Lagi pula kan sekarang lagi musim ikan bu? Lihat saja angin sudah berubah berhembus arah pertanda telah bergantinya musim. Dan ikan-ikan itu mengikuti musim. Kebetulan musim itu mengarah ke selatan. Dengan begitu kampung kitapun kebagian rejekinya.”
Tetapi mendadak Wayan Suasti senyum lagi. ini membuat Narisiwi kembali bercuriga. “Mengapa pak?”
Wayan Suasti sejenak ragu-ragu. Tapi setelah menghela napas hati-hati ia berucap. “Itu bu, soal tompel hitam bergambar Kembang Wijoyokusumah pada bagian sudut dada putra kita. Menurut mereka tidak lazim seorang memiliki ciri khas sedemikian kecuali anak keturunan Dewa.”
Keruan saja Narisiwi tak dapat menahan tawa. “Owalaaa, pak Sakir dan pak Mamat kok menduga begitu ya pak? Mana ada Dewa turun ke bumi lalu jadi manusia. Barangkali Pak Sakir dan Pak Mamat kebawa perasaan ya pak?”
Wayan Suasti tidak menyahut melainkan tersenyun kecil. Pada saat itulah dari ujung kampung sekonyong-konyong terdengar suara derap kuda menggemuruh. Derap kakinya menggempita. Agaknya bukan cuma tiga atau empat ekor saja. Tetapi jumlahnya ada belasan.
Wayan Suasti dan Narisiwi serentak longokkan kepala keujung jalan. Berbarengan itu dari salah satu gubuk terdengar suara pekikan kesakitan disusul pekik pekik lain bernada ketakutan. Wayan Suasti baru akan menyuruh istrinya masuk ke gubuk ketika dari arah rumah yang menekik kèlihatan warna merah membumbung kelangit, disertai asap hitam menggumpal.
Wayan Suasti segera sadar. “Rampok, bu…!”
“Apa…! Rampok!?”
“Cepat masuk bu. Bapak akan kesana.”
“Tapi, pak…!”
“Sudah! Lekas masuk dan bawa putra kita bersembunyi di dalam hutan. Bapak nanti menyusul.” Masih mengambang suara Wayan Suasti waktu tubuhnya tahu-tahu berkelebat cepat.
Narisiwi tak mau lagi berpikir panjang. Cepat-cepat dia masuk kedalam gubuk. Dan sekejap itu ia sudah bersama putranya yang dibangunkan paksa. Dengan perasaan cemas, Narisiwi masih memandang kearah Barat sebelum mengajak putranya berlari kearah hutan dibelakang rumahnya.
Dalam sekejap itu seorang lelaki tinggi besar bertampang sangar dengan golok bengkok ditangan berteriak keras dari atas kudanya. “Hayoo, bakar…! Bakar seluruh kampung ini jangan sisakan seorangpun yang hidup! Habisi semua!”
Penduduk kampung tidak mengira kampungnya bakal jadi korban para perampok, merekapun semburat berlari-larian panik. Wayan Suasti yang sudah tiba disitu bukan main gusarnya menyaksikan kekejaman para perampok ganas tersebut. Sehingga disertai teriakan marah, tubuhnyapun langsung menerkam.
Dua anggota rampok tengah memegang obor tak mengira bakal mendapat terjangan, kontan terjengkang dihantan kanan kiri pukulan telak Wayan Suasti. “Rampok-rampok jahan*m! Hadapi aku Wayan Suasti!”
Tatapan Wayan Suasti liar. Lalu… “Hiyaaat!”
Seorang menyerang dengan goloknya melengking tinggi waktu Wayan Suasti geser tubuhnye ke kiri. Satu tangan setengah menekuk meliuk, tahu-tahu dengkulnya naik keperut. “Dukkk!”
Disaat begitu terdengar seruan. “Anj*ng! Mampus kowe!”

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (28)

Ternyata Bergawa. Lelaki tinggi besar bertampang sangar inilah pimpinan gerombolan rampok tersebut. Detik itu ia hantamkan kakinya dari punggung kuda, lalu langsung mengincar bagian kepala Wayan Suasti. Hantaman yang dilancarkan Bergawa bukan sembarang hantaman. Itulah hantaman yang disertai kerahan tenaga dalam. Jangankan kepala Wayan Suasti batu sebesar badan kerbau sekalipun akan hancur lebur apabila terkena hantamannya.

Diluar dugaan Wayan Suasti dengan lihai dapat menghindar. Hal ini justru membuat Bergawa naik pitam. Bergawa ini terkenal perampok berilmu kepandaian tinggi. Merasa kena terlecehkan begitu mudahnya. Sehingga darahnya kontan naik keubun-ubun. Sambil memaki kasar diapun melompat dari atas kuda. “Anj*ng kurapan! Mau belagak dihadapanku, he!”
Bergawa hantamkan tangan kanan lurus kemuka. Wayan Suasti hanya mengelak sedikit. Gerakan mengelaknya ternyata hanya biasa. Liukkan kecil yang justru membuat Bergawa mulai terbuka matanya. “Bangs*t Rupanya punya simpanan juga kau! Bagus!”
Wayan Suasti kaget sewaktu mendadak Bergawa lancarkan tendangan kilat. Luar biasa cepatnya tendangan itu sampai sampai Wayan Suasti tak sempat berkedip.
“Heaat!”
Betapapun Wayan Suasti mengelak tetap saja limbung karena kalah cepat dengan serangan Bargawa. Sehingga Wayan Suastipun asal saja buat gerakan menghindar. Akan tetapi sebuah kelebatan dalam kejap itu menyambar bagian bahunya. Lelaki itupun keluarkan pekik tertahan. Darah segar mengucur deras dari bagian bahunya yang terluka. Lima langkah dihadapannya Bergawa tertawa bekakakan. Sembari bolang-balingkan goloknya didepan dada.

Wayan Suasti merasakan perih dibagian bahu tersurut mundur. Melalui sudut matanya masih bisa disaksikannya dua warga kampung tersungkur kena babatan golok dua orang perampok. Yang dipundaknya masing-masing memanggul perempuan dalam keadaan tak sadarkan diri. Wayan Suasti bersiap hendak menerjang. Tapi secepat kilat Bergawa menghadang gerakannya.

BACA JUGA:  Bintang Yang Ke Tujuh (2)

Tak punya pilihan lelaki bernama Wayan Suasti melompat mundur. Gerakan melompatnyapun terlihat tanggung karena perhatiannya terpecah antara dua rampok pemanggul perempuan itu dengan Bergawa. Apalagi Bergawa ini memang bukan tandingan Wayan Suasti. Sehingga dalam kejap itu goloknyapun menyambar Wayan Suasti.

Terhuyung-huyung Wayan Suasti meringis kesakitan. Sebelah tangan pegangi bagian lengan terluka. Bergawa kian keras perdengarkan gelak tawanya. Namun kelihatannya Bergawa betul-betul ingin menghabisi Wayan Suasti detik itu juga. Maka dengan menyeringai ganas ia akan melompat. Golok ditangan sudah terangkat tinggi diatas kepala. Sesaat tubuhnya akan berkelebat tiba tiba gubuk terbakar disampingnya rubuh termakan api dan ambruk kearahnya, dengan mengeluarkan suara berderaķan hebat.

Bergawa serta-merta melompat menghindar. Disaat itulah Wayan Suasti merasa tak ada pilihan lain dan menggunakan kesempatan untuk kabur. Cepat sekali tubuhnya lenyap kedalam hutan, justru disaat pimpinan rampok tersebut masih sibuk menghindari batang-batang balok terbakar. “Jahanam keparat! Anj*ng kurap itu lenyap! Setan!”
Habis memaki itu seraya berteriak teriak gusar masih dicobanya buat mengejar kedalam hutan. Tetapi Wayan Suasti benar benar menguasi hutan Parangtritis. Sosoknyapun lenyap sekejapan itu.

“Wuah! Kepar*t itu betul betul lenyap! Cuihh! !” Dengan menahan kedongkolan Bergawa kembali melesat. Dan langsung lompat kepunggung kuda. Lalu berseru keras.
“Hayoo! Tinggalkan kampung ini!!”
Bergawa menggebrak kuda masuk kedalam hutan diikuti belasan anak buahnya yang menyusul dibelakang dengan membawa harta rampokan dan perempuan perempuan kampung, tak sadarkan diri. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
27PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: