23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Bintang Yang Ke Tujuh (4)

HARI belum sore benar ketika seorang penuda berseragam hitam-hitam menuntun tiga ekor kuda memasuki Pasar Sore Jipangpanolan. Pasar itu berada persis di ruas ujung jalan besar yang menghubungkannya dengan pelabuhan. Kadipaten Jipang Panolan terletak di Utara Blora. Dewasa itu Jipangpanolan sudah berubah menjadi sebuah Kadipaten yang ramai dikunjungi para pendatang.

Belasan bangunan besar nampak mengisi sudut sudut kota. Puluhan lagi tampak memadati sekitar pelabuhan. Peniaga-peniaga yang datang berasal dari luar Kadipaten.Tidak sampai dikedalaman pasar pemuda berseragam hitam- hitam mengambil jalan berbelok. Puluhan tombak lagi menuntun kuda-kudanya sebelum berhenti di depan pintu gerbang sebuah bangunan besar.

Seorang penyabit rumput memandang curiga. Sesaat dia hentikan pekerjaan menyabit dan berteriak menegor. “Hooi, Ki Sanak… Mencari siapa!?”

Anak muda berseragam hitam-hitam menoleh. Tapi kemudian menyahut keras. “Mau menemui juraganmu! Aku membawa kuda-kuda bagus! Barangkali juraganmu berminat!”

Si penyabit rumput mendekat. Sejenak memperhatikan kuda-kuda didepan. Lama dia mencermati sebelum kepalanya teranguk-angguk tanda mengerti. Memang kuda-kuda yang dibawa pemuda berseragam hitam-hitam kuda-kuda bagus. Jenis kuda tunggangan unggulan. “Kuda-kuda siapa Ki Sanak!”

“Pedagang dari Padjajaran! Dialah majikan saya.” Suara pemuda berseragam hitam-hitam pendek dan mengerling ke arah gerbang bangunan besar. “Saya yakin juraganmu berminat dengan kuda kuda ini.”

Anak muda penyabit rumput masih mengamat-amati kuda-kuda didepanya sebelum kemudian menyahut. “Hem. Kuda ini memang kuda-kuda bagus persis kuda kuda Bromo. Apakah
Ki Sanak yakin hendak menjual kuda kuda ini.”

Pemuda berseragam hitam hitam cuma mengerling. Dia mulai tak suka. Anak muda penyabit rumput didepannya mulai banyak bicara. Mendapat kerlingan pemuda didepannya anak muda penyabit rumput tak enak hati, lantas berucap tandas sebelum menemui melangkah memasuki bangunan besar. “Ki Sanak tunggu disini.”

BACA JUGA:  Yuk Jadi Model Profesional di SH Modeling School Karawang!

Si pemuda kemudian masuk kebagian dalam bangunan. Tak lama ia keluar lagi bersama seorang setengah baya berkulit kecoklatan. Pemuda berseragam hitam-hitam mengangguk hormat. Namun lelaki setengah baya didepannya acuh-acuh saja, malahan nencermati kuda-kuda dihadapannya. “Emm, benar, ini memang kuda-kuda Padjajaran. Kebetulan sudah lama aku mencari kuda seperti ini.”

Usai bergumam lelaki yang menjadi juragan anak muda penyabit itupun mengerling kearah pemuda didepannya. Orang yang dikerlingi tenang-tenang saja. Enteng selanjutnya dia menawarin harga yang sesuai. Karena juragan kuda itu sudah tertarik maka diterimanya saja harga yang diajukan si pemuda. Dan lantas mengeluarkan kantung kecil dari dalam sakunya dan menyerahkannya kepada pemuda berseragam hitam-hitam.

Sambil menimang nimang kantung kecil berisi uang senan pemuda berseragam hitam hitam tanpa basa basi berbalik dan melangkah meninggalkan bangunan besar yang kesekelilingnya dilingkari tembok tinggi seperti benteng. Beberapa orang berpakaian santri kebetulan berpapasan dengannya mengangguk hormat, sambil mengucapkan salam.
Agaknya santri-santri tersebut mengenal kepada pemuda berseragam hitam hitam itu.

Tetapi si pemuda kelihatanya acuh-acuh saja dan malah meneruskan langkahnya kearah luar Kadipaten. Sebelum benar-benar keluar kadipaten ia menyinggahi sebuah perkampungan kecil. Beberapa penduduk kampung sempat dilihatnya memandang dengan tatapan sayu. Seorang bocah kecil bertelanjang dada sejak tadi memandangnya menangis kontan tertawa kegirangan begitu si pemuda mengeluarkan bungkusan kecil berisi beberapa potong kue dari dalam buntelan hitamnya.

Di kampung itulah penuda berseragam hitam hitam membagi-bagikan hasil penjualan kuda-kudanya kepada penduduk kampung yang kelaparan. Sesungging senyum nampak menghiasi wajah-wajah lesu dlhadapan itu. Wajah wajah berputus asa yang tadi diperlihatkan berubah menjadi ceria. Anak muda berseragam hitam-hitam cuma sesaat di kampung itu sebelum kemudian melesat pergi. (bersambung)

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (8)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: