23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Jangan Dibuat Rumit

HIDUP ini sederhana dan Seimbang. Agar bisa bermakna ya mesti diwarnai. Mau putih atau hitam tergantung selera, yang penting bagaimana kita menorehkan warnanya pada tempat yang tepat. Karena baik atau buruknya perbuatan yang menilai bukan diri kita melainkan orang lain.

Prinsip hidup ini hingga kini masih digenggam kukuh Azhari, alumni Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jurusan Jurnalistik, Lenteng Agung. Saat ini, bapak tiga anak yang pernah memimpin Harian Umum Radar Karawang ini bekerja di Bagian Iklan surat kabar tersebut. “Buat gue hidup ini sederhana kok. Gak usah dibuat rumit jika ada yang lebih gampang,” tuturnya kepada SERUNI.

Demikianpun ketika memandang sebuah pekerjaan, apapun jenis pekerjaannya, mau ditempatkan dimana, kalau iklas dinikmati semua akan menjadi mudah. “Mengapa hidup ini sederhana? Inti kehidupan ini kan cuma dua. Baik atau buruk dan adil atau tidak adil. Soal mana yang dipilih, terserah pemilihnya. Bukankah setiap pilihan ada konsekuansinya? Itulah namanya resiko pekerjaan.”

Lantas, mengapa harus seimbang? Untuk hal inipun, Ari, sapaan akrab Azhari, memandangnya secara sederhana. Baginya seimbang itu berarti adil. “Orang yang temboloknya besar porsi makannya pun harus lebih banyak. Beda kalau temboloknya kecil maka makanan yang dimakannyapun lebih sedikit. Itu adil namanya. Kalau porsi makannya ketuker, maka yang temboloknya kecil pasti bakalan muntah dan temboloknya besar tapi yang dimakan sedikit, yang terjadi tetap saja lapar. Nah ini tidak adil.”
Prinsip hidup seperti ini menjadi keseharian lelaki yang pernah menyajikan tema ‘Perbandingan Isi Berita di Harian Kompas dan Media Indonesia’ dalam skripsinya. Baginya porsi itu penting, karena inilah awal dari sebuah keberhasilan. “Lakukan sesuai porsinya. Jangan mengerjakan yang tidak bisa dilakukan atau melakukan yang bukan pekerjaannya. Karena hanya akan menghasilkan kegagalan,” tutur lelaki yang di wisuda tahun 1996 ini.

BACA JUGA:  Yang Penting Bisa Bahasa Inggris

Berbicara soal karir, hal paling berkesan baginya adalah ketika menjadi wartawan freelance di sejumlah surat kabar ibu kota. “Kalau soal sejak kapan gue mulai menulis, jawabnya sejak SMP. Tapi hal paling berkesan waktu gue masih kuliah dan menjadi wartawan freelance di surat kabar. Di jaman gue ada Surat Kabar Jayakarta, Mutiara, Berita Buana, Media Indonesia, Republika dan Suara Pembaruan, banyak lagi gue lupa surat kabar apa aja. Nah, tulisan gue pernah tuh di muat surat-surat kabar itu,” tutur mantan Wartawan Posmetro Jakarta ini.

Namun, ketika menyinggung soal buah karya lain yang pernah dihasilkan, Bagian Iklan di Harian Umum Radar Karawang ini tersenyum lebar. Memang sebelum memutuskan bergabung dengan Posmetro tahun 2004, ia sempat menyelesaikan sejumlah novel dan kerya tulis lain. Diantaranya novel ‘Jejak Jejak Leluhur’ dan diterbitkan bersambung di Harian Umum Suara Pembaruan tahun 1997.

Novel lainnya ‘Darah Darah Jingga’ yang kini masih ditayangkan Media Seruni.com. Selain itu masih ada ‘Manusia Manusia Pilihan’ dan ‘Lauh Pesan Terakhir’. Karya novel pertamanya Aku Prajurit Sukarelawan dan diterbitkan secara bersambung tahun 1995 di Majalah Marinir. “Bapak gue dari Batalion I KKO (Korp Komando Operasional) sekarang Marinir Surabaya. Batalion itu dipecah jadi empat peleton dan bapak gue di peleton I pimpinan Pratu Robani. Dia disusupkan tahun 1960 bersama sukarelawan Kalimantan dari Kalimantan Utara,” tutur Ari yang sempat tersenyum ketika mengatakan dia melamar pekerjaan jadi wartawan Posmetro justru dengan novelnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: