23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Ilmu Langka Jala Mas Muncul di Gunung Kapur

Darah Darah Jingga (6)

LURAH Bayan hentikan pasukannya melihat tiga anak muda pemandu jalan momberi tanda. Anak muda bernama Sancas maju memberi hormat.
Tuan Lurah Prajurit, disanalah Gorombolan Rampok Lelawa Domat bermarkas.” Anak muda itu menunjuk gundukan pegunungan dihadapan mereka.
“Gunung Karang itu!?” Lurah Bayan memandang gunung yang ditunjuk Sancas.
“Benar tuan. Gunung itu persembunyian mereka. Dari
sana juga mereka merencanakan aksi biadabnya.” Sancas nampak begitu kesal. Lurah Bayan tenang tenang saja. Disampingnya Lurah Kedaung
menampakkan wajah serius. Baik Lurah Bayan maupun Lurah Kedaung sebetulnya Kepala Kepala Prajurit Pengawal Syah Bandar Karang Hantu. Keduanya nampak angguk anggukkan kepala pelan. “Pantas…, pantaslah mereka selalu lolos dari sergapan Pengawal Pengawal Syah Bandar. Tak tahunya bersembunyi disini.” Yang bicara adalah Lurah Kedaung.
“Hai, Sancas berapa banyak jumlah mereka.”
“Entahlah tuan. Ketika menghancurkan dusun hamba jumlah mereka hanya belasan. Tapi hamba pernah melihat dalam jumlah sangat banyak. Hampir sama banyak jumlah laki laki di dusun hamba.”
“Segitu banyaknya?!”
“Benar tuan.”
Anak muda disamping Sancas menyambung. “Hambapun pernah melihat mereka menculiki anak laki laki di dusun sebelah Timur.
Selagi begitu prajurit yang memegang panji panji
berseru keras. “Hai, lihat! Ada asap hitam membumbung ke udara!”
Yang mendengar serentak tolehkan kepala.
Lurah Bayan menyeringai. “Hm, agaknya dari Gunung Kapur itu.”
“Apa yang terjadil?!” Lurah Bayan kerutkan dahi.
Lurah Kedaung tak kalah herannya menyahut. “Entahlah Lebih baik kita lihat kesana!”
Lurah Bayan anggukkan kepala. Lantas memerintahkan pasukannya untuk bergerak. Saat itu, di markas Gerombolan rampok Lelawa Domat, anak muda gagah berperawakan cakap, rambut panjang sebahu berikat kepala lurik lurik tengah mengamuk memporak porandakan markas gerombolan rampok tersebut. Ditangan kanan si pemuda sebilah kujang berwarna kuning keemasan berkilat – kilat terkena pantulan sinar mentari. Setiap kali kujang itu bergerak maka tiga atau empat orang pengeroyoknya terbang jiwanya.
Sebenarnya, siapa anak muda berikat kepala kulit macam ini belang ini. Dia begitu mahir memainkan senjata kujang. Seperti diketahui pada masa itu hanya kalangan keluarga bangsawan saja bisa memiliki senjata kujang, namun tidak semua bangsawan sunda bisa memainkannya dengan mahir. Tetapi anak muda bersegam hijau ini bukan saja mahir tetapi memguasai senjata yang jadi simbol kekuatan Padjajaran itu. Memang, anak muda itulah Raden Kembara. Dia murid Kanjeng Gunungjati. Terakhir terlihat dia sedang menunggang kuda hitamnya turun dari gunung jati.
Kembali ke pertempuran, selain Kembara ternyata masih ada orang tua berseragam hitam putih tak henti henti melantunkan bait bait syair, sambil melompat-lompat dari atap wuwungan satu ke wuwungan lain. Luar biasa setiap wuwungan yang kena dijejaki roboh seketika begitu manusia berseragam hitam putih melompat.
Apa yang terlihat pada saat itu memang benar. Dialah manusia berjuluk Penyair Gila Patah Hati. Sambil melantunkan syair syairnya tak berhenti kaki dan tangan bergerak gerak menghantam dan menendang.
“Di dunia ini banyak perampok banyak juga penipu. Antara perampok dan penipu lain sebab beda pula musabab. Aku mengenal perampok Sungai Ular. Bagiku dia adalah sahabat, karena baginya merampok adalah menolong. Bagi orang kampung dialah pahlawan. Halal buatnya merampok, haram baginya makan hasil merampok. Tetapi yang kuhadapi sekarang adalah perampok dan penipu. Maka tak salah jika tanganku mencabut nyawa mereka.”
Penyair Gila Patah Hati tertawa pendek.
“Bedebah! Kadal buntung! Gunakan jaring! Hayoo, gunakan jaring!” Lelaki tinggi besar sedari tadi hanya memperhatikan bertolak pinggang berteriak teriak gusar menyaksikan anak anak buahnya berkaparan terbang nyawanya disapu kujang ditangan lelaki berseragam hijau muda.
Tapi biji matanya mau melompat lebih lebih melihat kelakuan manusia berseragam hitam putih yang nyaris membumihanguskan markas besarnya.

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (17)

Memang. Lelaki inilah manusia bergelar Lolawa Domat pimpinan Gerombolan Rampok Gunung Karang yang terkenal memiliki ilmu kesalktian amat tinggi. Menyaksikan ulah gila manusia berseragam hitam putih rasanya tak sabar dia hendak melompat menerjang. Namun ia menjadi bimbang apalagi menyaksikan keganasan pemuda berseragam hijau muda yang dengan kujangnya mengamuk laksana macan terluka.Baru setelah sebelas orang dilihatnya berlompatan keudara perhatiannya jadi penuh terhadap manusia berseragam hitam putih.Dalam keadaan mengambang diudara, seorang berpostur tinggi besar bertampang kasar memanggul jala berukuran besar berseru nyaring. Dua tangan sontak mengembang kesamping. Bareng dengan itu jala dipanggul terkembang lebar.

Akan tetapi sungguh dasyat. Dari sudut sudut jala terbuat dari besi baja hitam bercuatan rantai rantai kecil seukuran jari jari kelingking kearah sepuluh orang mengelilingi jala. Yang lantas segera menangkap ujung ujungnya. Luar biasa. Begitu sepuluh orang berhasil menangkap ujung ujung rantai laksana mengambang keseluruhannya berjumpalitan kebelakang.

Otomatis rantai rantai menjadi kaku. Jala yang mengembang semula akan menguncup kian lebar terkembang. Disaat itulah terdengar bunyi “Trakk!”
Dari bagian tengah jala tiba tiba bercuatan rantai rantaipendek lebih besar lagi berbentuk cakar yang ujung ujung-nya menyerupai mata tombak. Keseluruhannya meluruh jatuh kebawah siap merajam seiring jala menguncup. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: