25 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Bintang Yang Ke Tujuh (3)

PRABU Brawijaya V telah memerintah Majapahit. Tak seorangpun sanggup menebak-nebak perjalanan panjang yang bakal dialami majapahit. Sementara Prabu Brawijaya Kertabhumi sudah habis pamornya. Tertawan keagungan dan kemegahan Kediri. Namun akankah rakyat Majapahit mengalami masa-masa enak seperti saat Sang Pengayom Nusantara Prabu Hayam Wuruk memerintah?

Semua bungkam. Sang Brawijaya V juga bungkan. Penguasa Majapahit saat itu dihadapkan kepada sebuah kenyataan bahwa dimasa pertengahan pemerintahannya rakyat Majapahit justru semakin sengsara. Tertindas dan kian tercampakan dalam harapan-harapan kosong. Putus asa, dan menjadi sapi-sapi perahan pembesar-pembesar Majapahit dibawah payung dan jubah keangkeran istana serta ketangguhan prajurit prajurit perkasa Majapahit.

Perubahan politik dan aneka kebijakan yang dipaksakan, akhirnya berimbas juga terhadap penyiaran islam di bumi Jawa. Tidak salah kalau dahulu Kanjeng Maulana Malik Ibrahim mengkisiki Kanjeng Ampel agar berhati-hati. Tahta Majapahit memang berhasil direbut kembali dari tangan Sang Prabu Brawijaya Kertabumi yang memerintah dari Blambangan. Tapi apa bedanya Brawijaya Kertabhumi ataupun Brawijaya V Ranawijaya… Setali tiga uang. Sama saja! Rakyat tetap dibebankan kepada pajak-pajak yang tinggi dan mencekik.

Baik Kanjeng Gresik maupun Kanjeng Ampel sebetulnya tidaklah mempersoalkan siapa yang memerintah Majapahit asalkan tetap mengayomi islam. Semua tahu, semenjak Raden Wijaya mbalelo terhadap mertua dan mendirikan Majapahit keterikatannya dengan penyiar-penyiar islam sudah merekat. Terlebih lagi selama dalam pelarian sempat mendapat perlindungan kerabat keluarga Sang Penguasa Padjajaran Prabu Siliwangi.

Dari Padjajaran itu Sang Pendiri Majapahit mengetahui banyak tentang islam. Maharaja Padjajaran itu sering mengkisi Raden Wijaya bahwa islam bukanlah ancaman. Para penyiar islam cuma punya satu tujuan untuk menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan. Jangankan bermimpi untuk menjadi raja atau para pejabat istana, bahkan terlintas saja dalam pikiran pun tidak. Karena Siliwangi tahu sesungguhnya mereka itupun raja-raja di negerinya yang mengabdikan diri demi umat.

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga

Sehingga tidak mengherankan dari Raden Wijaya hingga generasi Brawijaya keberadaan islam mendapatkan tempat istimewa sebagai mitra kerajaan dalam mengayomi rakyat Majapahit. Mereka tahu kehadiran para penyiar islam yang mereka sebut darah jingga sama juga para wiku dan pendeta yang membawa ajaran masing-masing. Tetapi bicara soal Mahapati Wahan yang jadi Mahapatinya Majapahit, ini sungguh berbeda. Mahapati Wahan manusia licik yang diam-diam juga mengincar tahta Majapahit. Terhadap islam ia juga bersikap bermusuhan karena memganggap sebagai ancaman rencana liciknya.

Sayangnya lagi Sang Prabu pun ternyata kurang jeli. Malah tenggelam dalam gemilang kemenangan dan kebesaran. Biar begitu Kanjeng Gresikpun mengkisiki. Masuknya peniaga peniaga Persia sungguh sungguh melegakan hati. Besar sekali harapan kehadiran mereka baik secara langsung ataupun tidak turut pula memperluas perkembangan islam di bumi Jawa. Suatu kenyataan pula kalau ternyata wilayah wilayah pesisir merasa kurang serasi lagi dengan ideologi Majapahit yang “Agraris” dan terpusat pada pertanian serta hasil hesil kebun, sedang alur perniagaan mulai merambah pada bentuk bentuk home industri. Ini jadi penyebab bergesernya ideologi agraris yang dianut Majapahit menuju Merkantilis Komersil berdasarkan pertimbangan untung rugi.

Pemerintahan Prabu Brawijaya dianggap gagal mengembalikan kebesaran Majapahit. Meski siapapun tak bisa memungkiri Sang Prabulah Sang Pemersatu kembali Jenggala – Kediri. Kini Majapahit mengalami krisis ideologi. Hal ini juga kemudian jadi penyebab ketegangan hubungan Kediri – Keling. Banyak yang bilang Wijayakusumah itu tak tahu balas budi. Bukankah dulu diangkat langsung Sang Ranawijaya yang kini bergelar Prabu Brawijaya V menggantikan kedudukannya di Keling.

Sekarang malah berbesar kepala berani berlawan-lawanan dengan Majapahit yang berpusat di Kediri. Sayangnya Sang Prabu inipun seperti oblak otaknya malahan membiarkan ketegangan berlarut larut tanpa adanya suatu tindakan. Tak mengherankan sikap lembek Sang Prabu justru menimbulkan rasa kesal dihati Adipati Adipati bawahan, bahkan pejabat pejabat istana yang masih setia pada Majapahit.

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (36)

Ini sungguh mengkhawatirkan Raden Rahmatullah alias Kanjeng Ampel. Sikap Sang Brawijaya akhir-akhir inipun menbuatnya kecewa. Sang Prabu sudah hilang pegangan. Kebijakannya terhadap kehadiran Islam di Majapahit pun nampaknya mulai berubah. Tapi Kanjeng Ampel sadar. Sang Prabu dihadapkan pada dua pilihan sulit. Diantara dua keyakinan, Keyakinannya kalau islam bukan sebuah ancaman dan perkembangan islam yang dihembuskan Mahapatih Wahan sebagai satu ancaman tahta Majapahit yang sejak dahulu dalam perlindungan serta dukungan besar ajaran leluhur Hindu-Buddha.

Terhadap ini Kanjeng Ampel kebingungan sendiri. Satu-satunya harapan adalah petunjuk Kanjeng Maulana Malik Ibrahim. Hanya sayangnya, penguasa Gresik itupun telah memutuskan sementara waktu untuk menetap di wilayah tengahan Jawa. Raden Rahmat kurang tahu pasti apa sesungguhnya yang tengah ditelusuri Kanjeng Gresik. Akan tetapi Kanjeng Gresik sempat kelepasan omongan bahwa bocah kecil asal Dusun Yoga itu kini sudah menjadi pemuda remaja, seusia Raden Maulana Makdum Ibrahim dan Raden Syarifudin putra-putra Kanjeng Ampel, serta Raden Paku, putra saudagar asal Gresik Nyai Ageng Pinatih yang dititipkan kepada Kanjeng Ampel.

Entah apa maksud ucapan Kanjeng Gresik tadkala itu. Namun dari sinar matanya jelas Ki Ageng Ampel melihat bias-bias harapan besar menyemburat disana. Seperti harapan Kanjeng Ampel terhadap Raden Patah putra Brawijaya V dari selir terkasih Dewi Kian asal Palembang supaya mengambil sikap terhadap gejolak yang terjadi di Majapahit. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: