31.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 27, 2023

Darah Darah Jingga (17)

KI AGENG Ngudung mencermati wajah-wajah dihadapannya yang saat itu memandang tak mengerti ke arahnya. Ki Ageng Ngudung tersenyum, sekali dia menghela napas sebelum akhirnya berucap. “Begini saja, maukah saudara-saudara berjanji untuk tidak menberitahukannya pada Junjungan?”

Mendengar itu sekalian orang kampung mendadak takut. “Ah, sudahlah. Sudah, tak mengapa. Kalau Junjungan tahupun paati merasa senang karena yang seharusnya tugasnya memberi tahu aku yang melakukan.” Ki Ageng Ngudung berhenti sebentar. “Apakah saudara-saudara mau andai aku beritahu rahasia itu?”
Warga kampung tadinya takut-takut melihat Ki Ageng Ngudung tersenyum lebar serentak menyahut. “Mauuuu.”
“Bagus.” Pimpinan Pemondokan Jipangpanolan kembali tersenyum. “Nah, kalau begitu ikuti ucapanku.” Sebelum berucap Ki Ageng Ngudung sejenak menarik napas. Dan…. “Asyahaduallah Illahaillallah. Waanyahaduanna Muhammadarrasulullah.”

Sekalian orang kampung mengikuti. Sehingga dalam kejap itu ditengah hutan teraebutpun mengumandang suara menggempita menggaung hingga mencapai bagian pinggir hutan
“Alhamdulillah.” Ki Ageng Ngudung sapukan tapak tangan ke wajah. “Nah, saudara saudara sekarang telah memiliki dua kalimat itu. Dengan begitu saudara saudara juga sudah memiliki ilmu tertinggi di dunia. Ketahuilah saudara-saudara ilmu ini bernama Islam. Dan saudara-saudara telah memiliki ilmu Islam.

Selama saudara-saudara terus menerus mengucapkan Dua Kalimat itu maka tiada satu kekuatan tiada satu ilmupun dapat melukai saudara. Karena saudara saudara dilindungi oleh Allah Yang Menciptakan langit dan bumi termasuk menciptakan saudara saudara, pohon dan lain lain. Jadi saudara saudara tidak perlu takut lagi asal saudara saudara tetap berlindung di dalam Dua alimat iti. Ingat saudara saudara Tuhan saudara saudara adalah Allah….”

“Inggiiiih.”
“Bagus. Ingat saudara saudara Tuhan saudara saudara Allah.”
“Inggiiiih.”
“Bagus. Apa nama ilmu yang baru saudara-saudara miliki?”
“Islam….”
“Siapa pelindung-saudara saudara?”
“Allah…..”
“Berarti tiada lagi yang saudara-saudara takutkan kecuali Allah. Benar begitu saudara saudara?”
“Inggih….
“Nah, kalau begitu mari bantu saya menumbangkan pohon besar itu.” Ki Ageng Ngudung menunjuk pohon besar didepannya.
Inilah diluar dugaan orang orang kampung tersebut. Tak mengira Ki Ageng Ngudung bakal menunjuk pohon keramat. Seperti tadi sekalian penduduk kampung serentak mundur teratur. Ki Ageng Ngudung alias Syech Benggolo sadar. Namun dialah seorang lihai bersiasat. Maka cepat berucap. “Wahai saudara-saudaraku sekalian. Ketahuilah bahwa semua ini bukan permintanku tetapi permintaan sang junjungan….”

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (9)

Disitu sengaja Ki Ageng Ngudung berhenti. Lalu menghela napas panjang. Wajah kayak menyesalkan. “Ya, kalaupun memang begitu, apa boleh buat. Sebetulnya inipun rahasiaku dengannya. Yang tahu hanya aku saja dengannya. Tapi mengingat kini kita satu Ilmu maka kita semua adalah bersaudara, maka saudara-saudara juga boleh tahu rahasia itu. Ketahuilah saudara-saudara pada saat ini sang junjungan tidak ada lagi disini. Dia sudah kembali pada Tuhannya. Tuhan saya juga Tuhan saudara-saudara. Tetapi sebelum pergi sempat dia berbisik. Aku dimintanya untuk memusnahkan bekas tempat tinggalnya. Itulah permintaan terakhirnya. Katanya supaya tidak ada lagi yang mengotori tempat tinggalnya. Ah, maksudku, segala yang diletakkan di kakinya itu….” Ki Ageng Ngudung kembali berhenti. Dipandanginya lagi wajah-wajah didepannya yang perlahan lahan mulai nenampakan keberanian.

Kali ini pimpinan pemondokan Jipangpanolan yang tersenyum. “Demikianlah rahasiaku dengan sang junjungan. Apakah saudara-saudara merasa sampai hati menolqk permintaan terakhir junjungan?”

Tidak ada yang menyahut. Namun, dua pemuda serentak maju. Lalu disusul pemuda-pemuda lainnya. Dan kemudian bukan cuma pemuda-pemudanya saja maju, bahkan orang-orang tua, ibu-ibu semua membawa bermacam-macam peralatan memotong. Dari parang, pacul sampai tajak. Selanjutnya dikomando Ki Ageng Ngudung yang berdiri paling depan. Orang-orang dusunpun beramai-ramai menumbangkan pohon besar itu.

Semua warga kampung barsorak-sorai menyambut tumbangnya pohon keramat tersebut. Yang disertai suara berdebuman hebat. “Alhamdulillah.” Ki Ageng Ngudung angkat dua tangannya dan diikuti sekalian warga kampung.

“Nah, saudara saudara, pohon besar ini telah tumbang. Jadi saudara-saudara sudah memenuhi permintaan terakhir junjungan. Mulai sekarang hanya Allah yang patut saudara-saudara sembah. Karena sang junjungan juga menyembah Allah. Paham saudara-saudara?”
“Ingggiiiih.”
“Kalau begitu saya amit mundur. Dan saudara saudara silahkan kembali ke dusun saudara-saudara. Oh, ya, bila saudara-saudara ingin bertemu saya datang ke dusun sebelah timur. Nama dusunnya Jipangpanolan. Disanalah saya menetap.”
“Inggih….”
Ki Ageng Ngudungpun menggandeng Jakfar Sodiq, putranya. Sebelum melangkah pergi terdengar ucapan salaam. (bersambung/arigito)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
27PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: