23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Darah Darah Jingga (16)

SIAPAPUN terkena ilmu ini dipacuh akalnya untuk menilai baik dan buruknya, atau benar salahnya dengan mempertimbangkan ucapan-ucapan yang terdengar. Jadi intinya adalah sesuatu yang logis diterima akal dan sampai ke hati. Hanya saja Ki Ageng Ngudung membarengi dengan Ilmu Pemindah Suara bersumber dari tenaga cadangan yang berpusat di pusar.

Dukun bernama Ki Sarwo bertambah kesal melihat lawannya cuma berkelit dan menghindar saja. “Setan penyihir! Bisamu hanya melompat-lompat dan mengelak saja. Lebih baik mampus saja sekalian!”

Ki Ageng Ngudung tersenyum kecil. “Ki Sanak, aku tak berniat memusuhimu. Mengapa harus menyerang?”
“Sebab sebentar lagi nyawamu akan terbang!”
“Mati adalah urusan Yang Maha Kuasa. Manusia berkehendak Tuhan juga menentukan. Siapapun tak berhak mencabut nyawa siapapun.”
“Huah! Banyak bicaramu! Akulah yang akan mencabut nyawamu! Nah, rasakan!”

Tuntas ucapannya Ki Sarwo melompat tinggi sambil berteriak. Begitu kaki menjejak tanah sontak dia menggeram dahsyat. Lalu jatuhkan diri, kepala tersembunyi diantara lengan-lengan dan menekuk rapat. Mengerikan. Berbareng dua tangan disentak ke samping, dari ujung-ujung jari bercuatan kuku runcing dan panjang. Bagian kepala berubah total. Ini sungguh-sungguh berubah, karena yang menempel di leher si dukun bukan lagi kepala manusia melainkan kepala serigala.

Ki Ageng Ngudung tersentak seketika. “Ilmu Iblis !”
Semua warga kampung yang menyaksikan serentak terpaku kaki-kakinya saking kaget dan takutnya.
“Greeng!”
“Astagafirullah Aladzim…” Ki Ageng Ngudung alias Syech Benggolo alias Syech Baghdad tengadahkan dua tangan tinggi-tinggi. Bibir terlihat bergerak-gerak halus.
“Tiada ujud binatang menjadi manusia. Tiada ujud manusia menjadi binatang. Kecuali iblis. Lebih dari itu hanyalah fatamorgana kosong. Dari manusia kembali ke manusia dari binatang kembali ke binatang.
Baru selesai berucap Ki Ageng Ngudung tarik satu tangan kepinggang, tangan lainnya diangkat lurus lurus diatas kepala. Lalu… “Bismillah….” Lelaki ini segera sapukan tangan ke muka. Dan…
“Blarr!”
“Darrr!”
Benturan pertama terdengar suara melenguh pendek. Kali kedua dukun bernama Ki Sarwo terpental tinggi dan jatun terbanting bergadubrakan setelah tubuhnya menghantam batang pohon dibelakangnya. Dari mulut si dukun merembes cairan kental berwarna merah. Saat itu ujud Ki Sarwo berubah jadi manusia kembali. Kepala balik ke bentuk semula, wajah pucat pasi seperti tak berdarah. Di hadapan Ki Sarwo, pimpinan Pemondokan Jipangpanolan tegak memandang tersenyum, sosok dihadapannya yang terduduk menekuk tak bertenaga.

BACA JUGA:  Merpati Maulana Ishak di Pantai Parangtritis

“Ki Sanak, seluruh ilmu kepandaianmu kini telah punah. Termasuk ilmu iblis yang kau miliki. Sekarang bertobatlah engkau. Insyaallah tobatmu akan diterima. Sebab Allah Sang Maha Pengampun.”
“Keparat! Kembalikan ilmuku!”
“Bermohonlah pada Yang Maha Kuasa, Sebab Dia Yang Menguasai langit dan bumi. Dan Dia juga yang berkehendak atas umatNya. Nanti dengan sendirinya ilmumu akan kembali.”
Ki Sarwo inilah penganut ilmu hitam tulen. Mana mau percaya begitu saja segala ucapan Ki Ageng Ngudung. Maka sembari mengancam akhirnya dia kabur melarikan diri.
“Hai, jahanam! Aku bersumpah. Kelak akan datang lagi menuntut balas! Berhati-hatilah engkau!”
“Astagafirullah..Sungguh hatinya telah tertutup. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya.”
Syech Benggolo perhatikan saja kearah lenyapnya Ki Sarwo. Sekejap kemudian ia pun sapukan pandang berkeliling pada puluhan warga kampung dihadapannya dan menghela napas tenang. Sebelum kemudian bicara. “Wahai, warga kampung sekalian. Sekarang kalian tahu kalau ki Sarwo itu orang jahat. Dan junjungan dipohon itupun sudah mengatakannya sendiri. Tapi junjunganpun berkata walau secara tidak langsung tugasnya sudah selesai menunggu kehadiranku. Dan itu berarti dia meminta padaku untuk merubuhkan rumahnya. Namun, tahukah kalian bahwa diam-diam dia juga berbisik padaku agar kalian membantunya merubuhkan rumahnya. Itu tadi kudengar waktu ia berbisik. Nah, bersediakah kalian untuk membantunya?”

Inilah kakimat yang amat mengejutkan sekalian warga kampung tersebut. Kalau diminta menebang pohon yang lain tentu semuanya akan beteriak setuju. Tetapi yang akan ditebang ini pohon keramat yang selama ini sudah mereka anggap rumah tuhannya. Tentulah lain ceritanya. Karena tidak seorang berani menyahut. Syech Benggolo berucap lagi. “Wahai saudara-saudara tidak usah takut. Junjungan tidak akan marah. Karena memang ia sendiri yabg meminta.”

BACA JUGA:  Syeh Wali Pasai Muncul di Gunung Jati

Tidak juga ada sahutan. “Baiklah kalau begitu. Lupakan saja permintaannya. Biarlah nanti aku sendiri memintanya supaya tidak marah karena warga kampung menolak permintaannya. Syech Baghdad lalu berbalik. Si bocah yang sudah berada disampingnya ikut pula berbalik. Kedua bapak anak itu baru akan melangkah sevaktu mendadak salah seorang warga kampung berucap.

“Ki Sanak tunggu!”
Syeh Baghdad tak jadi melangka dan berbalik legi dia. “Ada apa Ki Sanak?”
“Mengapa Ki Sanak tidak segera berucap pada junjungan? Bukankah Ki Sanak sendiri tadi berucap akan meminta junjungan supaya tidak marah.”
“Itulah sebabnya aku pargi. Sebab junjungan tidak ada lagi di pohon.”
Orang yang bertanya melongo. “Tidak ada…”
“Ya. Tidak ada, Dia sudah kembali ketempat asalnya.”
“Tempat asal? Dimana Ki Sanak?”
“Entahlah, akupun tidak tahu, barangkali kembali pada Tuhannya.”
Warga kampung itupun kebingungan. Kentara dari sikapbya yang tidak menentu. “Lalu, bagaimana ini Ki sanak.”
“Jalan satu-satunya harus memenuh permintaannya. Barangkali kalau permintaannya sudah terpenuhi tak perlu lagi susah-susah mencarinya dan memintanya supaya jangan marah. Karena dengan sendirinya dia tidak akan marah.”
Kentara sekali warga kampung ragu-ragu. Mereka masih menaruh takut pada pohon besar dihadapan mereka. Hal inilah dapat ditangkap oleh Syech Benggolo. “Wahai warga kampung. Tahukah kalian mengapa junjungan tak berani menyaktiku? Itu karena aku memiliki dua kalimat yang tidak dimilikinya. Kalimat itu aku dapat dari Tuhannya. Tuhannya sendiri yang juga Tuhanku melarang dirinya menyakiti siapapun yang tahu dua kalimat itu.”
Syech Benggolo berhenti sebentar. Dipandanginya wajah bengong dihadapannya. Ada perasaan iba tiba-tiba menyelusup dihatinya menyaksikan keadaan sedemikian. “Tahukah kalian dua kalimat itu? (bersambung/Arigito)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: