23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

Darah Darah Jingga (14)

PERKAMPUNGAN yang dituju ternyata tidak jauh. Dengan berjalan cepat merekapun sudah sampai di kampung padat.Penduduk kampung yang menyaksikan kedatangan Ki Sarwo serentak berkumpul. Apalagi kemunculannya disertai bocah dalam keadaan terikat.

Tampang Ki Sarwo kelihatan geram. Begitu sampai dia langsung masuk ke pondoknya dan keluar lagi membawa pisau berukuran sedang berbentuk aneh berwarna hitam pekat. Lima pemuda bertelanjang dada serta merta maju ke depan dan membuat lingkaran kecil. Dua pemuda yang menggotong si bocah bergerak kearah batu ceper berbentuk bundar berwarna hitam. Keduanya membuka tali-tali pengikat tangan dan kaki si bocah, lalu momegangiya dibantu dua pemuda lainnya.

Lima pemuda yang membentuk lingkaran sontak berteriak keras melihat Ki Sarwo melangkah mendekati batu ceper altar pengorbanan. Mula-mula kelimanya cuma berputar-putar saja berkeliling, mengitari batu kerucut ditengah lingkaran. Tapi, semakin lama gerak berputarnya makin cepat. Ketika gerakannya berubah lamban mendadak kelimanya kesurupan dan meracau-racau tak jelas hingga beberapa saat.

Orang-orang kampung semakin banyak berkerumun. Lima pemuda yang kesurupan membanting-banting tubuhnya ke tanah. Beberapa kejap seperti itu hingga kemudian kelimanya tersadar. Namun cuma sebentar karena sebentar kemudian kelimanyapun mendadak pingsan secara berbarengan. Melihat itu sepuluh pemuda lainnya maju dan menggotong pemuda-pemuda yang pingsan. Bersamaan itu terdengar bentakan keras Ki Sarwo. Bocah yang keseluruhan tubuhnya dibalut kain hitam merontah-rontah keras. Tetapi tetap tak berdaya. Dua pemuda yang memegangi kaki dan tangannya terlalu kekar buat si bocah.

“Siapkan bocah itu!” Ki Sarwo membentak keras sambil mengarahkan pisaunya kearah si bocah. Tetapi bocah berseragam hitam tidak diam saja. Begitu selesai bentakan Ki Sarwo langsung dia meronta. Tangan kanannya meronta berbarengan kepala miring ke kiri. Mulut lantas terbuka. Dan…

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (44)

“Adaaooo! Setan! Bocah ini menggigit tanganku!”
Karena kaget dan kesakitan otomatis pegangannya mengendur, lalu disusul suara yang lain “Duk!” Si bocah hentakan kaki keras-keras menginjak ujung jempol kaki penuda kekar satunya yang mencengkram tangannya. Seperti kawannya iapun kaget dan melepaskan cengkeramannya. Pada saat itulah bocah berseragam hitam melompat melepaskan diri. Sambil berjingkrak jingkrak bocah berseragam hitam tertawa menyoraki.

Melihat ulah si bicah meski dicekam perasaan takut orang-orang yang berkerumun tak dapat menahan tawa.Lain Ki Sarwo agaknya tak bisa lagi dia menahan marah melihat ulah si bocah. Seraya menggemeretakkan gigi dia bermaksud menerkam si bocah. Namun gerakannya tertahan. Sebuah teguran halus seketika terdengar ditelinga Ki Sarwo.

“Ki Sanak, mengapakah engkau begitu marahnya pada seorang anak kecil?”
Ki Sarwo sotak menoleh. Kejap itu dihadapan Ki Sarwo dari sela sela kerumunan terlihat seorang lelaki melangkah tenang ketengah ke depan. Melotot mata Ki Sarwo melihat kemunculan lelaki tak dikenalnya itu. “Ki Sanak siapa engkau!? Berani sekali mencampuri urusanku!”

Lelaki yang dihardik hanya tersenyum. “Engkau keliru ki sanak. Siapa hendak mencampuri urusanmu. Saya hanya tengah mencari putra saya.” Lelaki mengenakan jubah abu-abu berucap seraya mengerling ke arah bocah berseragam hitam. Tetapi si bocah cuma tertawa-tawa saja.

“Ki Sanak apa bocah ini putra mu!?”
“Benar Ki Sanak. Dia putraku.”
“Kalau begitu putra mu harus dikorbankan!”
“Putraku dikorbankan… Kepada siapa Ki Sanak? Mengapa dikorbankan?!”
“Putramu telah menghina junjungan kami!”
“Oh, siapakah junjungan Ki Sanak?!”
“Dia ada di dalan hutan. “

Lelaki berjubah abu-abu mengerutkan dahi. Tapi cuma sebentar sebelum kemudian dia tersenyum. “Jadi junjungan itu tinggal di dalam hutan. Kalau begitu saya mesti memintakan ampun putra saya pada junjungan.”

BACA JUGA:  Darah Darah Jingga (25)

Sebentar diam. Ki Sarwo hanya melotot sambil menggerendeng. “Wahai Ki Sanak, sudilah kiranya mengantarkan aku untuk nenghadap pada junjungan.”
“Tidak bisa! Junjungan sudah menetapkan keputusan bahwa putra Ki Sanak harus dikorbankan untuk kesejahteraan warga kampung.”

Pendeta bernama Ki Sarwo melirik pada si bocah. Dan bocah seragam hitam kontan cibirkan bibir. Ki Sarwo semakin mendongkol. “Ki Sanak, lebih baik engkau merelakan putramu. Tak ada vang bisa menyelamatkan putramu.”

Lelaki berjubah abu-abu tersenyum kecut. “Begitukah Ki Sanak? Tapi aku belum yakin sebelum mendengar langsung dari junjungan.
“Tidak bisa!”
“Mengapa tidak bisa Ki Sanak? Ah, atau Ki Sanak sendiri berniat membangkang pada junjungan. Kalau tidak nengapa Ki Sanak menolak menghadap pada junjungan?”
Merahlah wajah Pendeta Sarwo kejap itu juga. Baru sekali ini ada yang berani menantangnya separti itu.

Ki Sarwo menggereng. “Kurang ajar! Jadi terang engkau ingin menggagalkan upacara ini. Dengan begitu engkaupun harus dikorbankan. Lehermu akan dipenggal, kepalamu harus dikorbankan sebagai pengganti kepala kerbau. Sarah dari tubuhmu harus disiramkan sebagai minum Sang Junjungan. Hayoo! Tangkap manusia ini berikut anaknya!!!”

Sepuluh pemuda yang tadi menggotong lima kawannya yang tak sadarkan diri serentak melompat maju. Lelaki mengenakan jubah abu-abu malah tenang tenang saja. Lalu seraya berbalik dengan bibir tersenyum berucap ia tenang. “Wahai anak-anak muda gagah dan kuat kuat. Hati-hatilah dengan kekuatanmu. Apakah susahnya meringkus diriku yang tak memiliki kekuatan apa-apa seperti batang pohon kayu kering dan tidak memiliki daya.”

Ajaib. Ucapan lelaki mengenakan jubah abu-abu masih megambang di udara ketika tahu-tahu sepuluh anak muda dihadapannya mendadak lunglai serasa lenyap keseluruhan tenaganya lalu ambruk kebumi. Pendeta bernama Ki Sarwo kontan melotot. “Sihir! Manusia ini menggunakan sihir!”
“Tidak ada sihir Ki Sanak.”
“Sihir!”
“Tidak.”
“Sihir pasti!”
“Ki Sanak yang menggunakan Ilmu Sihir!”
“Tidak! Itu pasti Sihir!”
“Kalau begitu, biarlah junjungan yang memutuskan. Kalau ternyata saya menggunakan ilmu Sihir, terserah pada Ki Sanak ingin beerbuat apa.”

BACA JUGA:  Kampung Nelayan Parangtritis Dibakar Perampok

Ki Sarwo kontan berpikir. Manusia berjubah abu-abu ini agaknya tidak rendah ilmunya. Berlawanan dengannya belum tentu menang. Berpikir seperti itu lantas saja dia menyeringai. “Baik, jika begitu. Hayoo, bila ternyata ilmu kau gunakan maka tak bisa engkau menolak. Kau dan putramu akan kukorbankan!” (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: