25 C
Jakarta
Minggu, Februari 5, 2023
BKD Pemalang
HUT Kabupaten Pemalang

BINTANG YANG KE TUJUH (8)

SIWO Kastam seperti makan buah simalakama. Tak dimakan ibu mati kalau dimakan bapak yang mati. Siwo benar-benar pusing dan merasa tak berdaya untuk memilih.

“Siwo harus punya sikap tegas. Kalau Siwo ngebela Den Mas Syahid kita tanggung sama berat sama ringan resikonya. Teman-Ateman sudah setuju. Biarlah nanti tuan Tumenggung tahu sendiri. Tapi Gimana ya Wo, kalau tuan Tumenggung nanti bertanya!?” Mbok Suti selaku jubir kawan-kawan sesama juru masak kadipaten agak memikir. Siwo Kastampun makin terhenyak. Biar bagaimanapun cepat atau lambat pertanyaan itu akan sampai juga padanya. Dan tak dapat ia membayangkan betapa murkanya Tumenggung pada waktu itu.

Duh, Gusti Ayu tentu menangis lagi tersedu sedu. Siwo paling tak tahan menyaksikan Gusti Ayu Tumenggung menangis. Malah Siwo mendengar Gusti Ayu sudah mulai sakit-sakitan memikirkan Den Mas Syahid yang selalu mbalelo. Den Mas Syahid sendiri, dihadapan Tumenggung diam seribu bahasa. Dia karena tak mendengarkan atau cuma sekedar takjim. Hormat dan santun seorang anak terhadap orang tuanya. Namun begitu keluar rumah Den Mas Syahid kembali jadi liar, dan ini sudah berkali kali.

Siwo Kastam malah sempat berpikir jangan-jangan Den Mas Syahid ketempelan jin Islam bandel. Malah seringkali Siwo memergoki majikan mudanya itu berkelakuan kayak peman pasar. Sungguh tidak pantas untuk ukuran putra seorang Tumenggung terkenal seperti Gusti Tumenggung Wilwatikta di Tuban. Akan tetapi, Den Mas Syahid inilah tidak pernah meninggalkan ibadanya. Kalau di rumah Siwo selalu mendengar lantunan ayat-ayat Suci Al-Quran dibacakan Den Mas Syahid. Dan tidakkah juga yang dilakukan anak majikannya juga suatu ibadah? Menyantuni orang-orang miskin adalah ibadah apalagi orang-orang kelaparan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
48PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: