26 C
Jakarta
Sabtu, Februari 4, 2023

Bintang Yang Ke Tujuh (5)

DILUAR udara hangat mulai menyelimuti. Berbeda dengan daerah pegunungan yang dingin mencucuk ke tulang, di wilayah pesisir justru terasa hangat. Saat itu dalam gelapnya malam sosok berselubung hitam-hitam ala ninja berkelebat-kelebat cepat ke arah luar Kadipaten Tuban. Dia berlari tidak menyusuri jalan kadipaten yang mudah terlihat orang, melainkan menempuh bagian jalan agak rumit dan berbelok-belok di bagian pinggir hutan.

Gerakan berlarinya lumayan lincah walau sesekali terpaksa mematahkan ranting pohon tumbuh melintang menghalangi jalan. Melihat arah larinya jelas ia menuju kearah Kadipaten Blora. Kadipaten ini berada di arah Selatan Kadipaten Tuban. Sebetulnya kadipaten kecil namun telah mengalami perkembangan demikian pesat. Tadkala itu disebuah bangunan besar kediaman juragan sapi terlihat sepi. Ada lima orang centeng yang tengah berjaga jaga. Keseluruhannya berpakaian pendekar dengan seragam hitam-hitam serta gagang-gagang golok menonjol pada pinggang masing-masing.

Dari bagian dalam bangunan muncul seorang tinggi besar dengan kumis melintang dan brewokan kasar. Lelaki yang agaknya pemimpin para centeng itu berteriak keras. “Kalian berdua berkeliling! Lainnya tetap disini!”

Dua centeng yang diteriaki tampak acuh, namun bergerak juga untuk melakukan patroli. Sedang lelaki yang membentak seenaknya ngeloyor masuk kembali ke bagian dalam bangunan. Dari dalam bangunan saat itu terdengar suara cekikikan. Tiga perempuan muda masih perdengarkan suara cekikikan dihadapan lelaki gendut. Pada bagian mata lelaki ini tertutup kain hitam, ketika itu sedang melintir-lintir berusaha menangkap tiga perempuan muda yang terus menghindar dari sergapannya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
48PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: