23.9 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

BINTANG YANG KE TUJUH (17)

SODIKUN telah menduga bahwa Raden Bujana memang memiliki kelebihan dalam hal kewadagan. Meski ilmu silatnya dinilainya tak lebih baik dari lawannya namun Witana itu pemuda pemarah dan memang keras kepala dan tidak bisa dibanding-bandingkan dengan Bujana.

Bujana juga keras kepala tapi cukup sportif apabila merasa diri bersalah. Tetapi Witana sungguh anak muda berangasan. Sama berangasannya dengan dua pengawalnya yang diam-diam mulai bergerak mendekati arena perkelahian. Mereka tak suka juragan mudanya kena dipermalukan. Sodikun dan dua kawannya tidak tinggal diam. Merekapun bergerak pula. Disaat begitu Bujana membentak.

“Kita sepakat perkelahian ini tidak melibatkan orang lain!” Tetapi cuma dijawab Witana dengan mendengus. “Anak setan! Ku bunuh kau!” Dan, perkelahian kembali berlanjut. Kali ini keduanya menggunakan jurus-jurus pendek dan cepat. Berkali-kali Witana berusaha sarangkan pukulan ke dagu Bujana. Tapi Bujana selalu bergerak lincah. Kelitan serta liukkan tubuhnya membuat Witana bertambah marah.

Dan memang diluar dugaan, Bujana malah terlihat menguasai keadaan. Hingga tak heran dalam kejap berikutnya sebuah pukulannya menghantam telak bagian iga Witana.
“Bukk!” Witana perdengarkan pekik tertahan. Tubuhnya terhuyung mundur, satu tangan menekap bagian iga. Wajah meringis kesakitan, mata melotot marah. Bujana, pemuda berpostur sedang dihadapannya tak menunjukkan reaksi sedikitpun. Malahan ucapnya tenang. “Anak keparat, bagaimana? Kita sudahi urusan dan menyerah kalah!?”

Dasar keras kepala, Witana justru perlihatkan wajah tak suka. Rahangnya yang keras bergemeretakan tanda gusar. Sehingga sesaat itu, diapun kembali menerjang.
“Kepala batu!” membentak begitu Bujana sorongkan dua tangan menangkis disusul tubuhnya berputar dan kaki bergerak duluan memotong gerakan kuda-kuda Witana.
Tetapi Witana sigap, setelah mendesis anak muda kasar itu coba membanting lawan. Namun Bujana teramat lihai. Kelihaiannya ini membuat Witana makin terdesak. Akibatnya Witana jadi berkurang konsentraninya dan menyerang membabi buta.

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (18)

Dua pengawal Witana, Kohar dan Tohir tak nampai hati menyaksikan juragan mudanya keteter. Mereka inilah dikenal ahli memainkan jurus-jurus tangan kosong, sehingga tidak heran dalam kejap itu berusaha ingatkan juragannya agar berkonsentrasi. Akan tetapi aksi keduanya tertangkap oleh Karto.

Pengawal Raden Bujana ini memang memperhatikan keduanya sejak tadi. Sehingga sekejap itu diapun langsung melotot. Baik Karto maupun kedua kawannya sebenarnya tak kalah kasar dengan pengawal-pengawal Raden Witana. Hanya karena mereka lebih bisa menggunakan otak maka kelakuannyapun tak terlihat sebagai orang-orang yang kasar.

Kembali kopertempuran dua anak muda tersebut, Witana lagi-lagi terjajar hebat. Pukulan telak Raden Bujana sekali lagi bersarang hebat pada bagian dadanya. Untuk kali ini Witana agak kepayahan. Bagian dadanya luar biasa hebatnya berdenyut, membuat napasnya menjadi sesak.

“Anak setan ini tak kusangka semakin hebat.” pikirnya. Barusan Witana berniat mencabut golok, tetapi setelah mengukur kemampuan lawan didepannya niat itupun diurungkan. Keadaan dirinya saat itu sudah sedemikian parah. Dan iapun diam-diam mengakui juga kehebatan Raden Bujana.

Bukan tidak mungkin kalau ia mencabut golok keadaan akan bertambah semakin parah, pikir Witana. Sehingga ketika Raden Bujana melangkah maju, Witanapun agak tersurut, dan langsung berucap, “Baiklah, aku mengaku kalah. Tapi pada musim judi tahun depan aku akan membunuhmu!”

Bujana tak menyahuti tetapi hanya tersenyum menyaksikan Witana membalik badan dan pergi diikuti pengawalnya Kohar dan Tohir. (bersambung)

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: