28 C
Jakarta
Selasa, Januari 31, 2023

BINTANG YANG KE TUJUH (16)

RADEN Bujana memang sudah menaruh kesal terhadap Raden Witana. Dia menuduh Witana sudah memulai perselisihan sejak pertama tiba di lapangan panahan. Makanya begitu ada kesempatan dia lansung menghardik.

“Sejak tiba pagi tadi kau terus memandang tak suka padaku. Dan sekarang malah nenyerangku secara licik. Ini tak biaa aku biarkan.” Raden Bujana mendengki. Raden Witana meludah. “Cuih, aku memperhatikanmu karena aku tak suka. Sekarang tak perlu basa basi, kita berlahi saja, dan tanpa pengawal.”

Mendapat tantangan Witana panas telinga Bujana mendengarnya, dan diapun tak mau kalah. “Bagus, tanpa pengawal. Sudah lama aku ingin mengukur kemampuanmu.” Masih mengambang ucapan Bujana ketika tiba-tiba terdengar Witana menggembor keras. Sebentar itu dia sudah lakukan gerakan melompat. Dua kali pukulan dilancarkannya berturut turut.

Bujana mengelak. Karena sudah bersiaga sejak tadi, gampang saja dia mengelak sebelum balas menyerang menggunakan kaki. Namun gagal, tendangan melintangnya lewat satu jengkal dibagian atas kepala Witana, yang lantas buat gerakan meraup dalam kuda kuda condong kedepan. Dengan kuda-kuda itu witana masih leluasa berkelebat. Menghindar dan memukul atau malah menggunakan kaki.

Rupanya Bujana sudah terlatih baik. Segala strategi berkelahi Witana sudah dapat dibacanya. Diapun jadi bersikap hati-hati. “Anak keparat ini ternyata lihai main tipu muslihat,” Bujana membatin. “Anak setan! Memikirkan apa kau, he!?”

Witana cuma senyum mengejek. “Hih! Ilmu kacangan! Dari mana kau dapat kalau bukan dari pinggir got!” Bujana kesal. “Bangsat! Ilmu silatmu lebih buruk!” Sebuah sapuan kilat menyambar kaki Bujana. Tapi Bujana melompat, tak sampai dia terbanting ketika Witana dorongkan tapak tangan cepat. Sebaliknya berbarengan Witana dorongkan tapak tangan tinju Bujana mendarat telak. Alhasil dua anak muda itupun sama sama terjajar.

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (13)

Tetapi Bujana sudah kemadian membentak. “Kuremukkan tulang igamu!” Gerakan menyerbu Bujana mirip penari tledek menggoyang pantat. Witana sempat terkesima namun serentak berkelit walau pada bagian bahunya agak nyeri akibat tinju Bujana tadi,

Sodikun dan dua temannya memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama. Ketiganya bahkan sempat mengira-ngira kemampuan dua anak muda itu. Sulit bagi mereka menentukan siapa bakal keluar sebagai pemenang. Apalagi baik Raden Witana maupun Raden Sodikun sama-sama memperlihatkan kemampuan seimbang.

“Anak muda itu ternyata hebat. Gerakan-gerakan silatnya begitu mendebarkan. Murid siapa dia?” Prapto berucap pelan. Namun matanya tak lepas dari perkelahian. Karto menyahut datar. “Aku kuatir kalau Den Bujana terus mengumbar adat konsentrasinya jadi buyar. Ini memudahkan anak muda itu lancarkan serangan.” Karto mengangguk perlahan sambil mengerlingi Sodikun. Nampak sekali ketegangannya menyaksikan perkelahian tersebut. Sodikun mulai kuatir melihat anak majikannya berambisi sekali menundulkkan lawannya dengan cepat.

Sebagai seorang pesilat Sodikun tentu tahu Raden Bujana harus bisa mengendalikan emosinya. Ketenangan justru menjadi kunci mengalahkan lawan. Biar begitu ia sadar. Hal ini tidak boleh menyangkut pautkan dirinya. Perkalahian ini urusan anak muda yang tua hanya menonton. “Memikir apa Sodikun…” Karto bercuriga juga. “Sejak tadi keningnya berganti-ganti berkerut. “Aku menguatirkan Den Bujana. Agaknya dia belum dapat mengendalikan emosi.” Sodikun melengos tajam tatapan tak lepas kemuka. Karto keluarkan deheman pelan. Katanya menyahuti. “Kita cuma diperbolehkan menonton.”

“Ya, ini susahnya. Kalau diluaran sudah kuingatkan dia.” Keduanya lantas mengerlingi dua lelaki tinggi kekar pengawal pengawal Raden Witana. Keduanyapun sepertinya tetap menjaga suasana tidak semakin kacau. Prapto seketika berseru. “Lihat! Den Bujana kayaknya mulai menyadari keadaan.” Sodikun cepat alihkan pandang keperkelahian. Terdengar gumamannya pendek. “Hem, itu bagus!”

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (20)

Prapto mengerti. Dan seperti Karto diapun teranggung angguk. Sementara pada perkelahian itu, Bujana ternyata bukan seorang yang pantas dibilang tolol. Otaknyapun bekerja baik sekali. Gerakan gerakannya tidak lagi kelihatan bernafsu, malah kini kelihatan ia lebih tenang dibanding Witana.

Di arena perkelahian, Bujana berseru nyaring. Serintasan tangannya meraup. Dua-duanya sekaligus. Dengan begitu ia bermaksud melontarkan lawannya keras-keras keatas. Tetapi Witana tidak bodoh begitu saja membiarkan kakinya kena diraup. Sembari berucap keras dia buat gerakan mundur. “Cuih! Kau kira gampang menjungkir balikkanku mesum tledek!” Kening Bujana berkerut. “Aku cuma menari dengan perempuan tledek itu! Kau bilang mesum, bangsat!?”

Witana tertawa panjang. Tak mengurangi nada mendengkinya kembali dia berucap. “Huh! Berjam-jam sama tledek itu kau bilang menari?!” Bujana mengejek. “Tak sangkah nafsumu besar sekali sama teledek itu.” Bujana melompat ketika Witana menyerbu dengan menggeram dahsyat. “Lompatanmu kayak kodok buduk!”

“Simpan saja ocehanmu anak keparat!” Bujana merutuk. Sigap dia membalas gempuran lawannya. Raden Witana memang telah siap segalanya. Gempuran Bujana dicermatinya ringan saja. Agak lepas dia sewaktu Bujana berseru nyaring. Tapi sudah terlambat. Bujana telah memusatkan kekuatannya pada tinjunya.

Witana merasa tak punya pilihan segera ia alirkan tenaga ditangan. Sehingga dalam kejap itu terdengarlah benturan keras. Witanapun kaget. Padahal postur tubuhnya jauh lebih besar ketimbang lawannya. Dalam hal kanuragan ia merasa tak kalah, malahan hampir dapat mengungguli kedasyatan Bujana. Tetapi tubuhnya bergetar hebat terdorong sampai satu tombak. Bujana yang tubuhnya lebih kecilan ternyata memiliki kewadagan lebih kokoh. Tidak sampai dia terjajar karena cepat-cepat menjaga kesimbangan. (bersambung)

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
35PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: