26.5 C
Jakarta
Selasa, Januari 31, 2023

BINTANG YANG KE TUJUH (13)

LAPANGAN Bubat pagi itu. Sinar matahari hangat-hangat kuku menyentuh kulit ratusan orang yang memadati bagian pinggir lapangan. Hari itu memang sedang berlangsung adu jago memanah. Ajang para jago panah ini memang setahun sekali digelar di lapangan Bubat.

Peserta adu jago panah berasal dari padepokan-padepokan memanah yang tersebar di wilayah tengahan Jawa. Saat itu ditengah lapangan tampak lima orang peserta sudah mengambil posisi. Masing-masing dengan busurnya dan siap menancapkan anak-anak panah dalam jumlah terbatas. Sejauh 75 meter dihadapannya terdapat lingkaran kayu dalam posisi tergantung pada batang kayu. Lingkaran kayu itu yang menjadi sasaran anak-anak panah peserta adu jago.

Anak muda berpostur sedang dibarisan ketiga para pemanah kelihatan memandang angkuh pada lawan lawannya. Mereka rata-rata masih berusia sebaya dengannya. Seorang mengenakan seragam jawara yang memperhatikan anak muda angkuh itu berucap tak suka. “Lihatlah anak muda bertubuh sedang itu, angkuh sikapnya.”

Kawannya sejak tadi serius memperhatikan ke tengah arena tenang-tenang saja. Seraya menoleh pada anak muda dimaksud kawannya berucap dia. “Hm, anak muda bernama Umang itu. Musim judi tahun lalu memang dia banyak mengantungi kemenangan. Ia menggondol banyak sekali duit tahun lalu. Tapi masih kalah banyak sama anak muda entah dari mana datangnya. Kayak anak petani.”

Yeng bicara itulah Wikalpa. Kemudian celingak-celinguk mencari-cari sesuatu. Kawannya sadar dan berucap acuh. Disana!” Orang itu tunjukkan tangannya ke arah kerumunan orang tengah menyaksikan penari tledek mengogel-ngogelkan bagian bawah tubuhnya. Petak lapangan disebelah kiri itu paling ramai dikerumuni para lelaki. Wikalpa nyengir.

Kawannya bernama Sodikun sejenak memperhatikan. Setelah menowel terus berucap. “Juragan mudamu itu ternyata anak muda hebat. Tahun lalu tledek itu pula dilarikannya.”
Wikalpa nyengir. “Anak anak muda sekarang luar biasa. Tapi biarlah. Bukankah selain mencari uang juga berebut kesenangan?!”

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (10)

Sodikun tak mau ambil pusing. Dicoleknya lagi Wikalpa dan mengajak agak mendekat ke arena panahan. Dan ternyata pada petak-petak lain para peserta panahan yang lainpun telah bersiap. Ada dua petak lagi arena diperuntukan sebagai lapangan panahan. Peraturannya sama, masing-masing pemanah harus tepat menancapkan anak panahnya pada lingkaran kayu didepan. Tiap-tiap pemenang akan diadu, dan pemenang pertama, kedua dan ketiga berhak mengantungi hasil pertaruhan dengan niliai berbeda. Dan setiap pemenang boleh mengikuti lebih dari satu pertandingan.

Sodikun dengan pandangan menyelidik ingin tahu. “Aku akan bertaruh untuknya!” Prapto masih melihat kearah pemuda berseragam hitam-hitam yang baru muncul di arena panahan. Sejak tiba di lapangan panahan mata Sodikun memang liar mencari-cari sosok anak muda berpakaian petani dengan topi capingnya. Musim judi tahun lalu Sodikun cuma sedikit membawa taruhan kemenangan karena masih ragu kemampuan anak petani itu. Tapi sekarang, Sodikun tak mau menyianyiakan lagi peluang, dia bakal bertaruh habis-habisan untuk anak muda berpakaian petani itu.

Sebetulnya siapa anak muda petani itu? Sesungguhnya, dialah Raden Mas Syahid putra Tumenggung Wilwatikta di Tuban. Tak seorang pun di arena panahan tahu manusia itu yang berjuluk Maling Budiman, yang belakangan ramai menjadi perbincangan di wilayah tengahan Jawa. Dipuji-puji orang miskin dan kelaparan, dimaki-maki para saudagar dan pedagang kaya serta menjadi buruan prajurit-prajurit kerajaan.

Kehadiran manusia berjuluk Maling Budiman ini dianggap misterus kalangan perjudian. Tak ada yang tahu asalnya apalagi padepokannya. Tapi tidak ada aturan kala itu bagi peserta harus jelas padepokannya. Siapa saja boleh mengikuti adu jago panah asal mahir memanah. Adu jago memanah itupun tadkala itu seperti pesta rakyat saja. Wikalpa juga menyaksikan kehadiran orang dibicarakannya tadi serentak melotot. Dia mengerling pada Sodikun dan kawan-kawanya. Orang-orang yang dikerlingi acuh. Wikalpapun agaknya mulai menduga-duga. Tetapi ia tengah serius pada arena panahan.

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (15)

“Cleeep! Tak disangka anak muda angkuh didepannya begitu lihai membidik sasaran demi sasaran. Sekalian mata yang menyaksikan terkagum-kagum dan merasa yakin anak muda itulah bakal jadi pemenang musim panahan tahun ini.

Siapa pemenangnya!?” Sodikun sekonyong konyong berseru. Karto menyahut sambil berdiri. “Ternyata seorang perempuan!”
Perempuan…?!” Sodikun serentak berdiri berpenasaran.
Karto tertawa tergelak. “Dalam aju jago panahan mana ada perempuan ikut bertanding…”
“Sial. Aku kira beneran. Wah, bisa rame.”

Beberapa pengunjung warung tersebut senyum-senyum. Biar begitu tidak berani memandang terang. Siapapun dalam lapangan arena masing-masing menjaga diri, masing-masing tak mau cari persoalan. Makanya walau senyum-senyum pengunjung bertubuh kekar beberapa jarak disebelah Sodikun tetap pura-pura acuh. Urusan lelucon itu adalah urusan tiga orang itu.

Kodirun tadi sempat merasa kaget enteng berucap. “Kalau – benar barangkali seru. Ada perempuan telah lari meninggalkan masakannya dan terjun dalam lapangan pertandingan mau tahu urusan laki-laki. Ha, ha, ha. Kupikir biar denganku saja bertanding. Biar kuajari cara memanah yang baik dan kutanggung menang.”
Kodirun kembali tergelak-gelak. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
35PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: