25 C
Jakarta
Sabtu, Januari 28, 2023

BINTANG YANG KE TUJUH (11)

SAPU Tangan berwarna Nila dengan sulaman kembang Wijaya Kusumah di pojok kiri atas merupakan satu-satunya harta berharga milik Raden Mas Syahid. Hanya saja dua huruf berinisial ‘WS’ di bagian tengah lipatan sapu tangan sampai sekarang masih menjadi misteri. Dan gara-gara itu juga Siwo habis-habisan dimarahi majikan mudanya itu gara-gara tidak sengaja mendapati sapu tangan itu tercecer di Balai Kesenian Katumenggungan. Siwo, karena berpenasaran sempat membuka-buka lipatan sapu tangan tersebut. Inisial itu disulam dengan benang terbuat dari emas murni.

Lipatan kain senyerupai tangan itu memang telah dimiliki Syahid entah sejak kapan. Bahkan Tumenggung sendiri yang menemukan putra angkatnya tak tahu maksud dua hutuf itu. Perihal lipatan kain inipun pernah ditanyakan Gusti Ayu tumenggung pada Syahid. Herannya malah Syahid terbengong mendapat pertanyaan begitu. Aneh memang, kalau Syahid jelas sebagai pemiliknyapun merasa tidak tahu menahu soal sapu tangan miliknya. Padahal sapu tangan berwarma Nila itu samasekali tak pernah lepas dari dirinya.

Mbok Suti tetap menemani Siwo di bale-bale pondok. Keduanya barusan tertegun mendengar suara gending. Siwo membetulkan duduknya menghadap pada bangunan penyimpan alat-alat kesenian, agak ke timur bangunan utama. Dengan pondokkan mereka tidak begitu jauh. Karenanya suaranya amat jelas terdengar dari tempat Siwo dan Mbok Suti duduk. Mbok Suti colek Siwo. “Suara gending Den Mas Syahid, Wo? Dari bangunan kesenian.” Siwo mengiyakan saja. Malahan nampak pasang kuping baik baik.

Belum larut benar. Bukan ketumbenan Syahid malam-malam berada di bangunan kesenian. Biasanya ia berada disana sehabis mengaji tapi malam ini lain. Sehabis magrib tadi tidak terdengar suaranya mengaji. Entah sudah berada dalam bangunan itu sejak kapan. Memang, seluruh penghuni Katumenggungan tahu Syahid lihai bermain gending. Bukan cuma gending namun pandai pula melukis. Hampir semua abdi Katumenggungan kebagian lukisannya.

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (20)

Tetapi, ini terasa lain. Siwo sendiri menyadari terbawa suasana hati dalam dentang dan denting alunan gending. Sepertinya dimainkan dengan penuh perasaan. Seperti mengisahkan kegundahan hati dan keragu-raguan. Dalam sekali menyentuh perasaan, larut dalam suasana hati dan malam pekat tak terhingga. Dalam kesunyian dan kenestapaan, kekecewaan atau kemarahan. Ada nada-nada bertanya disana, menyatu seolah menjadi gumpalan padat menyesakkan.

Tak berhenti. Nampaknya terus berkepanjangan. Suasana malam itu pecah, terkayak-koyak oleh kegundahan putra angkat Tumenggung Wilwatikta di Tuban. Langit seolah tak berdaya, menerima saja menyambut dengan kepasrahan. Suara itu kian menghalus, lebih terkesan lembut dan kini mulai membetot. Luar biasa. Inilah kali pertana Siwo merasakan kemarahan meledak-ledak dalam gending pemilik sapu tangan berinisial WS.

Mengenai bangunan kesenian itu Raden Mas Syahid dulu berinisiatif. Perhatiannya terhadap kebudayaan pribumi sungguh tak terkalahkan. Di bangunan itu juga Raden Mas Syahid sering menghabiskan malam, kalau tidak bermain gending paling melukis. Ah, kalau melukis Den Mas Syahid sering pagi hari atau sore, menjelang matahari terbenam baru ia keluar gedung. Bila malam jika tak terdengar suara gending tentulah ia bersyair atau menuangkan ide-idenya membuat suatu tulisan. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
28PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: