31.1 C
Jakarta
Minggu, Februari 5, 2023
BKD Pemalang
HUT Kabupaten Pemalang

BINTANG YANG KE TUJUH (10)

BANGUNAN Utama Katumenggungan itu kelihatan megah. Arsitekturnyapun meski masih terkesan menonjolkan kearifan lokal namun unsur-unsur keislamnnya terlihat dengan jelas. Maklum, ketika itu Tuban sudah menjadi persinggahan kapal-kapal persia. Sektor perdagangan berkembang amat pesat, ditambah lagi Tuban memang bukan daerah agraris.

Tetapi saat itu, malam semakin merambat. Siwo Kastam yang menjadi penanggung jawab lumbung perbekalan ketumenggungan yang memutuskan untuk beristirahat tak dapat memejamkan mata. Demikianpun Mbok Suti, sejak masuk ke dalam pondok bersama Siwo masih terlihat gelisah. Pembangkangan Den Mas Syahid siang tadi di balai sidang katumenggungan sungguh mengganggu pikiran.

Karena tak bisa tertidur keduanya memutuskan kembali keluar dan duduk di bale-bale depan pondok. Siwo tidak pernah bosan menyaksikan bangunan utama katumenggungan. Bangunan itu kayak sundulan kepala raksasa yang akan menyentuh langit. Namun masih jauh dari bintang yang diselimuti kepekatan malam yang begitu misterius. Siwo sayang sama semua penghuni bangunan itu. Terutama torhadap Gusti Ayu Tumenggune yang welas asih serta sabar. Hati Gusti Ayu laksana terbuat dari kristal. Lembut dan halus tetapi mudah hancur.

Gusti Ayu ini memperhatikan sekali pada perempuan-perempuan seperti Mbok Suti. Meski demikian Siwo menyadari, didalam bangunan itulah tengah berlangsung pergulatan hebat tentang prinsip. Diantara moral dan kewajiban, merasa malu dan sebagainya. Siwo takut memikir kesana. Biar Siwo sayang sama Syahid namun Gusti Tumenggung tetap benar. Gusti Tumenggung seorang Wilwatikta di Tuban. Namanya harum hingga ujung Majapahit. Konon pula, baik Sang Ranawijaya maupun Wijayakusumah menaruh hormat dalam-dalam padanya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
48PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: