31.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 27, 2023

Analogi Rambu Rambu

KITA tentu pernah merasakan mengendarai kendaraan di jalan raya, lalu traffic Light yang tadinya hijau berganti jadi merah. Padahal saat itu sedang tergesa-gesa. Keinginan untuk menerobos sudah tentu ada, atau malah langsung menerobos lampu merah.

Sering kecelakaan terjadi justru akibat pengendara tidak sabar menunggu lampu jadi ijo lagi. Syukur-syukur cuma terluka ringan tetapi kalau berat. Sudah rugi ditubuh rugi pula materil karena harus membetulkan kerusakan kendaraan yang tentunya butuh biaya tidak sedikit juga.

Cukupkah dua itu imbas kecelakaannya? Tidak, karena yang merepotkan justru kondisi anak istri di rumah. Anak butuh biaya sekolah dan isteri juga perlu uang belanja. Tetapi mau bilang apa, rentetan peristiwanya memang seperti itu. Dan inilah yang disebut konsekuensi. Rambu-rambu lalulintas itu bukan pilihan tapi konsekuensi yang harus dipatuhi. Kalau melanggar ya ada akibatnya.

Tetapi traffic Light juga tidak selalu benar. Namanya sistem masa erornya juga ada. Seperti traffic light di perempatan Cipeundeuy. Ada juga menyebutkan perempatan lampu merah klari yang menyatakan batas Jalan Lingkar Tanjungpura atau Jalan Baru.

Disayang karena dibutuhkan tapi mengesalkan lantaran eror. Selasa (24/9) pukul 04.25 wib, dari arah Tanjungpura rencana belok kanan ke arah Johar. Traffic light berwarna merah. Arus kendaraan dari arah Cilampek kebanyakan truk dan bis besar giliran melintas ke arah Tanjungpura. Kendaraan dari arah Johar pun berhenti.

Tak berselang lama muncul angka dalam hitungan mundur dari angka 10 dan berakhir di angka 1. Lalu muncul tulisan ‘tunggu sampai hijau’. Tetapi tunggu punya tunggu ternyata yang bergerak duluan kendaraan dari arah Johar. Sementara tulisan di traffic light masih tunggu sampai hijau.

BACA JUGA:  Sok Ah, Dinas Perhubungan Karawang Evaluasi Timing Lampu Merah DPRD

Tidak salah memang karena perintahnya kan disuruh menunggu. Tapi kondisi tersebut bisa saja memicu terjadinya kecelakaan. Terkadang membuat pengendara ragu-ragu. Biasanya kalau perintahnya kayak gitu beberapa detik berikutnya sudah ijo. Bagi yang tidak sabar mungkin sudah tancap gas. Masalahnya sekarang truk-truk dari Cikampek juga masih bisa melintas dan siap melumat pengendara motor yang tidak sabaran.

Jika dianalogkan dengan kondisi negara kita saat ini, disetiap negara sudah tentu punya peraturan. Produk peraturannya bermacam-macam. Namun dari semua produk itu ada bapaknya namanya undang undang. Nah, keturunan dari undang undang ini ada yang namanya Kitab Undang undang Hukum Pidana (KUHPidana) dan Kitab Undang undang Hukum Perdata (KUHPerdata), selain turunannya yang lain.

Terserahlah mau menyebutnya apa, dan apapun namanya produk yang dibuat para wakil rakyat bergelar ‘yang mulai anggota dewan yang terhormat’ ini kemudian disebut hukum dan harus dipatuhi.

Persoalannya sekarang bukan soal patuh atau mematuhi, melainkan sudah layakkah peraturannya untuk dipatuhi. Repot juga euy, kalau produk hukumnya seperti lampu merah cipeundeuy. Sudah merugikan pengendara membahayakan jiwa pula.

Tetapi hukum bukanlah traffic light dan bukan pula pilihan. Hukum adalah konsekuensi. Kalau melanggar dihukum memaksakan hukum juga ada konsekuensinya. (azhari)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
27PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: